Buya Yahya Ungkap Dzikir yang Bisa Menenangkan Jiwa dan Menghilangkan Rasa Cemas, Amalkan Pagi dan Sore

Buya Yahya menyampaikan kajian tentang dzikir penenang jiwa dalam tayangan Al-Bahjah TV. Foto: Madi

SIDAKPOST.ID, BUNGO – Pendakwah kharismatik Buya Yahya mengajak umat Islam untuk memperbanyak dzikir sebagai salah satu ikhtiar memperoleh ketenangan jiwa, mengurangi rasa cemas, sekaligus memperkuat tawakal kepada Allah SWT.

Hal tersebut disampaikan Buya Yahya dalam kajian yang diunggah melalui kanal YouTube Al-Bahjah TV berjudul “Dzikir Ini Bisa Menghilangkan Rasa Cemas, Penenangan Jiwa, dan Dapatkan Perlindungan | Buya Yahya”.

Dalam kajian tersebut, Buya Yahya menjelaskan sebuah dzikir yang diriwayatkan dari sahabat Nabi Muhammad SAW, Abu Darda radhiyallahu ‘anhu, yang dianjurkan dibaca setiap pagi dan sore.

Adapun bacaan dzikir tersebut adalah:

“Hasbiyallahu la ilaha illa huwa, ‘alaihi tawakkaltu wa huwa rabbul ‘arsyil ‘adzim.”

Baca Juga :  Buya Yahya: Jangan Hanya Kejar Dunia, Masa Depan Anak di Akhirat Juga Penting

Artinya:

“Cukuplah Allah bagiku. Tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki Arsy yang agung.”

Menurut Buya Yahya, dzikir tersebut dibaca sebanyak tujuh kali pada waktu pagi dan sore sebagaimana juga dikenal dalam amalan Wiridul Lathif.

Allah Mencukupi Segala Kegelisahan

Dalam penjelasannya, Buya Yahya mengutip riwayat yang menyebutkan bahwa orang yang mengamalkan dzikir tersebut akan memperoleh pertolongan Allah terhadap berbagai persoalan yang menjadi beban pikirannya.

“Allah akan mencukupi apa yang selama ini menjadikan dia kepikiran, gundah. Apa yang kau pikirkan akan diselesaikan,” jelas Buya Yahya.

Baca Juga :  Seni Memaafkan: Perspektif Islam tentang Hubungan Keluarga dan Menyembuhkan Luka Batin

Ia menerangkan bahwa makna riwayat tersebut bukan sekadar terbebas dari rasa cemas, melainkan bentuk tawakal seorang hamba yang menyerahkan segala urusannya kepada Allah SWT.

Penjelasan Tentang Tambahan Riwayat

Buya Yahya juga menjelaskan adanya tambahan lafaz dalam sebagian riwayat, yakni kalimat “shadiqan kana au kadziban.”

Menurutnya, tambahan tersebut diperselisihkan oleh para ulama ahli hadis. Sejumlah muhaddits menganggap tambahan lafaz itu tidak kuat sehingga tidak dijadikan sandaran utama.

Karena itu, Buya Yahya menegaskan bahwa bagian riwayat yang dapat dijadikan pegangan adalah:

“Kafahullahu ma ahammah.”

Artinya, Allah akan mencukupi segala sesuatu yang menjadi kegelisahan dan beban pikiran seorang hamba.