Kisah Abdurrahman bin Auf: Hijrah Tanpa Harta, Bangkit Jadi Saudagar yang “Tak Bisa Miskin”

Ilustrasi suasana pasar di Madinah yang menggambarkan aktivitas perdagangan Abdurrahman bin Auf. Foto: Madi

SIDAKPOST.ID, BUNGO – Sejarah Islam mencatat banyak kisah inspiratif tentang para sahabat Rasulullah. Namun, di antara deretan nama tersebut, sosok Abdurrahman bin Auf menempati posisi istimewa sebagai figur yang memadukan kesuksesan dunia dan kemuliaan akhlak.

Ia bukan hanya dikenal sebagai saudagar kaya, tetapi juga sebagai simbol kemandirian, kejujuran, dan kedermawanan. Bahkan, dalam berbagai kisah yang beredar di tengah masyarakat, Abdurrahman bin Auf kerap dijuluki sebagai sahabat yang “tidak bisa miskin”.

Dilansir dari kanal YouTube Manhaj Islami, perjalanan hidup Abdurrahman bin Auf menjadi gambaran nyata bagaimana iman dan kerja keras mampu mengubah keadaan secara drastis, bahkan dari titik paling rendah sekalipun.

Baca Juga :  Jangan Mendzalimi Siapapun, Aa Gym Tekankan Pentingnya Akhlak dalam Kehidupan

Pedagang Sukses di Mekkah

Jauh sebelum peristiwa Hijrah ke Madinah, Abdurrahman bin Auf telah dikenal sebagai pedagang sukses di Mekkah. Ia memiliki kemampuan bisnis yang tajam, pandai membaca peluang, serta piawai membangun relasi dagang.

Di tengah masyarakat Quraisy yang memang dikenal aktif dalam perdagangan, Abdurrahman mampu menempatkan dirinya sebagai salah satu pelaku usaha yang menonjol. Keuntungan demi keuntungan berhasil ia kumpulkan, menjadikannya hidup dalam kondisi berkecukupan.

Namun, semua itu berubah ketika ia memeluk Islam. Keputusan tersebut bukan sekadar perubahan keyakinan, tetapi juga langkah yang mengubah seluruh arah kehidupannya.

Baca Juga :  Hukum Orang yang Suka Memfitnah dan Mengadu Domba dalam Islam

Hijrah: Ujian Kehilangan Segalanya

Saat Nabi Muhammad memerintahkan para sahabat untuk berhijrah ke Madinah, Abdurrahman bin Auf termasuk di antara mereka yang memenuhi panggilan tersebut.

Hijrah bukanlah perjalanan biasa. Ia harus meninggalkan seluruh hartanya di Mekkah—usaha yang telah dibangun bertahun-tahun, aset, dan kenyamanan hidup. Semua ditinggalkan demi mempertahankan iman.

Dalam sekejap, seorang saudagar sukses berubah menjadi seseorang yang tidak memiliki apa-apa.

Namun, justru di titik inilah karakter Abdurrahman bin Auf mulai terlihat dengan jelas.