Tebo  

Wejangan KH Muhajir: NU Pilar Kokoh Satukan Nafas Agama dan Kebangsaan

KH Muhajir Ali Rois Syuriah PCNU Kabupaten Tebo sedang memberikan pencerahan pada pengajian akbar di Kantor MWCNU Rimbo Bujang. Foto: Amir

SIDAKPOST.ID, TEBO – Dalam rangka memperingati Hari Lahir (Harlah) Nahdlatul Ulama (NU) ke-100 Masehi, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Rimbo Bujang menggelar pengajian akbar bersama KH Muhlasin AR asal Pamenang, Kabupaten Merangin. Kegiatan tersebut berlangsung di halaman Kantor MWCNU Rimbo Bujang, Jalan Pahlawan, Kelurahan Wirotho Agung, Kecamatan Rimbo Bujang, Kabupaten Tebo (10/2/2026).

Pengajian akbar ini dihadiri Rois Syuriah PCNU Kabupaten Tebo KH Muhajir Ali, pengurus PCNU Tebo KH Ritaudin Anazami beserta jajaran, anggota DPRD Kabupaten Tebo, pengurus dan jajaran MWCNU Rimbo Bujang, tokoh agama, badan otonom (Banom) NU, serta masyarakat Nahdlatul Ulama.

Dalam sambutannya, Rois Syuriah PCNU Kabupaten Tebo KH Muhajir Ali menegaskan bahwa sejak berdiri pada tahun 1926 hingga memasuki usia satu abad pada 2026, Nahdlatul Ulama telah menjadi pilar kokoh yang menyatukan nafas agama dan semangat kebangsaan.

Baca Juga :  MWCNU Rimbo Ilir Lakukan Pembinaan Pengurus Nahdlatul Ulama

“Sejak tahun 1926 hingga 2026 sekarang ini, Nahdlatul Ulama telah menjadi pilar kokoh yang menyatukan nafas agama dan semangat kebangsaan. Pada usia seabad ini, semangat Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia bukan sekadar tema, melainkan amanah bagi kita semua,” ujar KH Muhajir Ali.

Ia menambahkan, amanah kepengurusan di tubuh NU tidak hanya bersifat struktural, tetapi juga mengandung tanggung jawab moral dan spiritual dalam berkhidmah kepada umat.

“Maka amanah kepengurusan Nahdlatul Ulama adalah tanggung jawab struktural, moral, dan spiritual untuk berkhidmah kepada umat, menjaga ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja), serta merawat NKRI,” sebutnya.

Baca Juga :  Kesenian Bernafaskan Islami Dapat Menangkal Budaya Asing

Lebih lanjut, KH Muhajir Ali menekankan bahwa jabatan dalam NU bukanlah ajang untuk mencari popularitas atau kekuasaan, melainkan ladang pengabdian yang harus dijalankan dengan penuh keikhlasan.

“Jabatan dalam NU bukan ajang mencari popularitas atau kekuasaan saja, melainkan ladang pengabdian (khidmah) yang harus dijalankan secara ikhlas, jujur, dan berpedoman pada AD/ART serta hasil konsolidasi organisasi,” imbuhnya.

Pada kesempatan tersebut, ia juga menyampaikan apresiasi kepada jajaran pengurus MWCNU Rimbo Bujang yang dinilai konsisten menjalankan roda organisasi.

“Terima kasih kepada jajaran pengurus MWCNU dan apresiasi setinggi-tingginya mewakili jajaran pengurus PCNU Kabupaten Tebo, yang tetap menjalankan roda organisasi serta selalu bersyukur dalam berkhidmah,” pungkasnya. (asa)