SIDAKPOST.ID, BUNGO – Perkembangan situasi politik nasional kembali menjadi sorotan. Di tengah meningkatnya tensi dan tajamnya perbedaan pandangan di ruang publik, Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf, mengeluarkan pernyataan yang menegaskan pentingnya kewaspadaan terhadap arah komunikasi politik yang dinilai mulai keluar dari koridor wajar.
Menurutnya, dinamika yang terjadi belakangan ini tidak sekadar menunjukkan perbedaan sikap politik, tetapi telah berkembang menjadi pola yang berpotensi memicu instabilitas. Ia menilai, sejumlah narasi yang beredar mengandung unsur provokasi yang dapat membahayakan keutuhan negara jika tidak disikapi secara bijak.
“Ada provokasi politik yang mengarah percobaan makar,” tegasnya.
Pernyataan tersebut mencerminkan kekhawatiran atas meningkatnya eskalasi retorika politik yang kian tajam. Dalam pandangannya, kondisi ini tidak boleh dianggap sebagai hal biasa dalam demokrasi, melainkan perlu direspons dengan kehati-hatian oleh seluruh elemen masyarakat.
Dilansir dari kanal YouTube Official iNews dengan judul “Ketum PBNU Yahya Sebut Ada Provokasi Politik, Mengarah Percobaan Makar”, Yahya juga menyoroti adanya kecenderungan pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan ruang publik untuk membangun opini yang bersifat memecah belah.
Ia menegaskan bahwa narasi provokatif bukan hanya berdampak pada dinamika politik, tetapi juga berpotensi merusak kohesi sosial di tengah masyarakat yang majemuk. Karena itu, ia mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan dalam menyampaikan pendapat di ruang publik.
“Pernyataan-pernyataan bernada provokasi” disebutnya sebagai bagian dari pola yang harus diwaspadai bersama.
Gus Yahya—sapaan akrabnya—mengajak masyarakat untuk tidak mudah terpengaruh oleh arus informasi yang belum tentu memiliki dasar yang kuat. Ia menekankan bahwa stabilitas nasional merupakan faktor kunci dalam menjaga keberlangsungan pembangunan, terutama di tengah tekanan global yang tidak menentu.
Lebih jauh, PBNU melalui kepemimpinannya menegaskan komitmen untuk terus menjaga nilai-nilai moderasi, persatuan, serta mendorong dialog yang sehat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam situasi seperti saat ini, peran seluruh elemen bangsa dinilai krusial untuk memastikan bahwa perbedaan tidak berkembang menjadi konflik yang merugikan kepentingan bersama. (Sum)







