Sementara itu, Romy salah satu jurnalis media online lokal juga mengungkapkan kekecewaannya, dirinya menilai tindakan Sekda Tebo sudah melampaui batas dan menunjukkan sikap tidak profesional terhadap kerja pers.
” Kalau rapat seperti ini saja ditutup dari wartawan, lalu di mana letak transparansi pemerintahan? Ini bukan urusan pribadi, ini soal kepentingan publik. ” kata Romy, geram.
Para wartawan menuntut Sekda Kabupaten Tebo untuk meminta maaf secara terbuka atas tindakan tersebut. Mereka juga menuntut klarifikasi resmi terkait alasan di balik pelarangan peliputan, yang hingga saat ini tidak dijelaskan secara terbuka.
Selain itu, para wartawan mendesak Bupati Tebo untuk segera turun tangan menyikapi insiden ini. Mereka meminta Bupati bersikap tegas dan menjamin bahwa kebebasan pers akan tetap dihormati dan dilindungi di lingkungan Pemerintah Kabupaten Tebo.
Hentikan segala bentuk pembatasan terhadap peliputan jurnalistik. Lindungi hak-hak wartawan dalam memperoleh informasi publik. Ini bukan hanya soal profesi, tapi soal hak masyarakat untuk tahu. (adl)








