Opini  

Tren Kenaikan Penyakit Menular dan Target Zero Growth 2030 di Provinsi Jambi

Prof. Dr. Mukhtar Latif, M.Pd Tenaga Ahli Gubernur Jambi, Ketua ICMI Orwil Jambi – Guru Besar UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. Foto: Diskominfo Provinsi Jambi

Oleh: Prof. Mukhtar Latif

(Guru besar UIN ata Jambi)

A. Pendahuluan

Secara makro, Provinsi Jambi acapkali dipandang sebagai wilayah yang memiliki beban penyakit menular relatif rendah jika disandingkan dengan rata-rata nasional maupun provinsi besar lainnya di Pulau Sumatera seperti Sumatera Utara atau Riau.

Data BPS menunjukkan bahwa angka prevalensi penyakit menular di Jambi tidak se-ekstrem wilayah padat penduduk lainnya. Namun, kerendahan angka ini jangan sampai melahirkan sikap abai atau “false sense of security”.

Realitas di lapangan justru menunjukkan adanya anomali yang menarik: meskipun posisi Jambi secara nasional rendah, tren internal di daerah justru menunjukkan kurva yang menanjak sejak tahun 2024 hingga awal 2026.

Kenaikan ini bukan semata-mata menandakan kegagalan sistem kesehatan, melainkan sebuah bentuk keberhasilan deteksi dini.

Berkat adopsi teknologi kesehatan yang lebih canggih, seperti alat Tes Cepat Molekuler (TCM) dan sistem surveilans digital yang lebih sensitif, gejala penyakit yang dulunya tersembunyi kini berhasil diidentifikasi secara presisi.

Baca Juga :  THE REAL WINNER PILKADA JAMBI 2020 (2)

Kita tidak lagi “meraba dalam gelap,” melainkan sedang “menyisir dengan cahaya terang” untuk menemukan setiap kasus yang ada.

B. Konsentrasi Kasus: Fokus Kota Jambi

Data Dinas Kesehatan Provinsi Jambi tahun 2025 menegaskan bahwa angka penyakit menular tertinggi, khususnya Tuberkulosis (TBC) dan HIV/AIDS, terkonsentrasi di Kota Jambi.

Sebagai kota transit ekonomi dan transportasi, Kota Jambi memiliki kepadatan penduduk yang mempercepat laju transmisi.

Hingga akhir 2025, Kota Jambi menyumbang sekitar 28% dari total beban TBC provinsi dan hampir 35% kasus HIV.

Mobilitas penduduk yang tinggi di jalur lintas Sumatera menjadikan titik-titik perkotaan seperti Kota Jambi dan Kabupaten Bungo sebagai daerah dengan risiko paparan paling signifikan.

C. Tren Kenaikan Penyakit Menular di Provinsi Jambi

Analisis data tahun 2024-2026 menunjukkan kenaikan tahunan (y-on-y) untuk TBC berada di kisaran 12-16%.

Baca Juga :  Bupati dan Narkoba: Apa yang Terlewatkan?

Peningkatan ini berbanding lurus dengan masifnya program skrining di puskesmas.

Sementara itu, HIV/AIDS menunjukkan kenaikan stabil di angka 7%, yang didorong oleh kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan VCT secara sukarela.

Untuk DBD, fluktuasi kasus sangat dipengaruhi oleh anomali cuaca di Jambi, di mana daerah seperti Kerinci dan Sungai Penuh mencatat angka kesakitan tertinggi secara proporsional.

Meskipun secara angka absolut Jambi masih menempati posisi bawah di Sumatera, pola kenaikan ini menuntut kewaspadaan.

Sebagaimana dijelaskan oleh Faisal (2025) dalam studinya mengenai kebijakan kesehatan daerah, keberhasilan mengendalikan penyakit menular sangat bergantung pada kecepatan memutus rantai penularan di tingkat akar rumput (Puskesmas).

D. Kebijakan Menuju Zero Growth 2030

Pemerintah Provinsi Jambi telah merumuskan peta jalan strategis untuk mencapai Zero Growth atau eliminasi penyakit menular pada tahun 2030.

Kebijakan ini bertumpu pada tiga pilar: