Tidak jauh dari Situs Kapal Zabag, ada situs Siti Hawa. Di situs ini banyak ditemukan keramik tetapi periodenya lebih muda. Selain keramik juga ada bata-bata kuno yang tidak ditemukan di sekitar Kapal Zabag. Lalu ditemukan kayu bulian sebagai penanda kehidupan, sisa dayung, tungku dari tanah liat yang bisa dibawa-bawa.
“Kita sedang berada di situs (Kapal Zabag) yang dikelilingi situs-situs lain saling terkait. Dan itu yang mungkin membuat bangsa-bangsa zaman dulu datang ke Sabak,” kata Abe.
Dia melanjutkan, tim juga sudah melakukan pemetaan di dasar sungai dan melalui udara. Dan ternyata di sekitar Situs Kapal Zabag ada alur sungai kuno. Kapal Zabag ini posisinya di darat, tetapi ada sungai melintas tidak jauh dari kapal. Ada mendernya dan tembus sampai ke laut dan ada sambungannya ke Sungai Batanghari
Kata Abe, kondisi saat ini jarak dari Situs Kapal Zabag ke laut sekitar 20 Km. Sungai kuno ini ukurannya cukup besar sehingga bisa dilalui oleh kapal yang besar.
“Jarak sekitar 100 meter di sini (Situs Kapal Zabag) ditemukan kayu-kayu bulian yang dulu digunakan sebagai dermaga. Di situs Siti Hawa juga ada. Lalu di Kota Harapan ada juga (Kapal kuno) jaraknya lima kilometer dari sini,” tambahnya. Abe memperkirakan di Sabak dahulu kala lalu lintasnya cukup padat. (red)







