Ketika konflik terjadi di kawasan strategis seperti Timur Tengah, terutama di jalur distribusi vital seperti Selat Hormuz, pasokan minyak dunia terganggu dan harga pun melonjak.
“Dampaknya langsung terasa pada biaya produksi bahan baku plastik seperti polyethylene (PE) dan polypropylene yang ikut meningkat,” jelasnya, kepada sidakpost.id, Jumat (10/4/2026).
Selain itu, konflik juga memicu gangguan rantai pasok industri petrokimia global, sehingga ketersediaan bahan baku semakin terbatas dan harga terus terdorong naik.
“Kondisi ini sampai ke daerah seperti Bungo karena Indonesia masih bergantung pada impor bahan baku plastik,” tambahnya.
Dari sisi ekonomi daerah, lanjutnya, situasi ini berpotensi menekan pelaku usaha dan memicu kenaikan harga barang konsumsi di masyarakat jika tidak segera diantisipasi.
Ia pun mendorong adanya langkah strategis dari pemerintah dan pemangku kepentingan, seperti pengendalian distribusi, efisiensi penggunaan plastik, serta pengembangan alternatif kemasan ramah lingkungan.
“Kami berharap ada langkah cepat agar dampaknya tidak semakin membebani masyarakat,” pungkasnya. (Sri)









