Ekonom peraih Nobel, Amartya Sen, dalam teorinya Development as Freedom menjelaskan bahwa kemiskinan tidak hanya dipahami sebagai rendahnya pendapatan, tetapi juga keterbatasan akses masyarakat terhadap pendidikan, kesehatan, pekerjaan, dan kesempatan ekonomi.
Artinya, penurunan kemiskinan harus dibaca secara lebih luas sebagai hasil dari membaiknya akses dan peluang masyarakat dalam kehidupan sosial-ekonomi.
Dalam konteks Jambi, penurunan kemiskinan kemungkinan besar dipengaruhi oleh beberapa faktor penting.
Pertama , membaiknya sektor perkebunan dan pertanian rakyat. Sebagai daerah yang masih bertumpu pada sektor primer seperti sawit, karet, kelapa, dan pertanian pangan, stabilitas harga komoditas sangat memengaruhi tingkat kesejahteraan masyarakat.
Ketika harga komoditas membaik, pendapatan petani meningkat. Efek lanjutannya adalah meningkatnya daya beli masyarakat desa.
Kedua, meningkatnya pembangunan infrastruktur daerah. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah pusat maupun pemerintah daerah cukup aktif membangun jalan, jembatan, serta konektivitas antarwilayah.
Ahli ekonomi pembangunan Jeffrey Sachs menyebut bahwa infrastruktur merupakan salah satu instrumen utama dalam memutus rantai kemiskinan karena mampu membuka akses ekonomi masyarakat.
Ketika jalan membaik, biaya distribusi turun, aktivitas perdagangan meningkat, dan peluang usaha baru mulai tumbuh.
Ketiga , berbagai program bantuan sosial dan perlindungan masyarakat juga berkontribusi terhadap penurunan kemiskinan. Program seperti bantuan pangan, subsidi energi, bantuan pendidikan, hingga dukungan UMKM membantu menjaga daya tahan ekonomi masyarakat bawah.







