Gubernur Al Haris: Bonus Demografi Jadi Tantangan Keberlanjutan Pembangunan di Jambi

Gubernur Jambi, Al Haris, menyampaikan arahan saat membuka Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) Program Bangga Kencana Tahun 2026 di ruang pola Kantor Gubernur Jambi. Foto: Diskominfo Provinsi Jambi

SIDAKPOST.ID, JAMBI – Gubernur Jambi, Al Haris, menegaskan bahwa bonus demografi yang tengah berlangsung di Provinsi Jambi merupakan peluang sekaligus tantangan besar bagi keberlanjutan pembangunan daerah.

Hal tersebut disampaikan Gubernur saat menghadiri Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) Tahun 2026, yang digelar di ruang pola Kantor Gubernur Jambi, Rabu (8/4/2026).

Kegiatan ini turut dihadiri Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jambi, Drs. Putut Riyatno, serta Inspektur Utama Kemendukbangga/BKKBN RI, Dr. A. Damenta, yang menjadi keynote speaker secara daring.

Dalam arahannya, Gubernur Al Haris menekankan bahwa persoalan kependudukan bukan hanya menjadi tanggung jawab satu lembaga, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen, mulai dari pemerintah hingga masyarakat.

“Banyak hal strategis yang menjadi tugas kita, mulai dari ibu hamil, stunting, menyusui, hingga angka kependudukan. Ini bukan hanya tugas satu lembaga, tapi tugas kita bersama,” ujar Gubernur Al Haris.

Ia menjelaskan, bonus demografi yang tengah terjadi menuntut pemerintah untuk menyiapkan strategi peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), di tengah berbagai tantangan seperti distribusi penduduk, urbanisasi, hingga peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan.

“Dalam bersinergi memajukan program Bangga Kencana di Provinsi Jambi ini salah satu isu kependukan yang menjadi tantangan besar di Indonesia saat ini dan tentu perlu mendapat perhatian dalam pembangunan penyuluhan yaitu sedang berlangsungnya bonus demografi. Diperkirakan peluang bonus demografi itu disebut akan mencapai puncaknya Indonesia pada tahun 2040 an nanti,” kata Gubernur Al Haris.

Baca Juga :  Rivan A. Purwantono: Tak Hanya Tol, Jalur Arteri Jadi Perhatian Khusus dalam Pengelolaan Mudik Nataru

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, sebanyak 68,66 persen penduduk berada pada usia produktif 15–64 tahun, sementara 25,11 persen berusia 0–14 tahun, dan 6,03 persen berusia 65 tahun ke atas.

“Hampir 70% itu usia terbanyak kita itu di 15 tahun sampai 64 tahun. Nah, ini usia-usia sedang produktif ya tentunya. Artinya, Jambi akan memiliki penduduk usia 15 sampai 64 tahun. Usia produktif sebesar 67,61% keatas sampai tahun 2040. Kondisi ini merupakan peluang kita dan sekaligus juga tantangan dalam melanjutkan cita-cita pembangunan. Ini peluang sekaligus tantangan. Jika tidak dikelola dengan baik, justru bisa menjadi beban. Tapi jika dimanfaatkan, ini bisa mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” jelasnya.

Selain bonus demografi, Gubernur juga mengingatkan adanya peningkatan jumlah penduduk lanjut usia (lansia) di Jambi yang perlu mendapat perhatian serius.

“Data BPS 2025 menunjukkan bahwa penduduk usia lansia 60 tahun ke atas di Jambi berkisar 6,03%. Artinya, kita juga sedang bergerak menuju masyarakat yang lansia dan, sebuah fase yang tidak dapat dihindari dan harus dikelola dengan tepat,” ucapnya.

Ia juga menyoroti masih adanya lansia yang hidup dalam kondisi kurang layak dan belum tersentuh bantuan pemerintah daerah.

“Lansia ini tersebar di semua daerah di Provinsi Jambi dan ada kabupaten/kota menganggarkan dana untuk lansia dan ada juga yang tidak mengganggarkan dana itu. Sementara jumlahnya cukup banyak di Sumatera dan di daerah ada lansia yang tidak punya keluarga yang tinggal di rumah, rumah yang tidak layak huni. Nah ini mungkin nanti ke depan saya berharap kepada bupati/wali kota ini memang kita harus mendata betul berapa lansia di daerah kita. Apa yang kita lakukan,” lanjutnya.

Baca Juga :  Hari Ketiga Lebaran, Gubernur Al Haris Tekankan Kekompakan Antar Bupati/Walikota

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur juga menyoroti kenaikan angka stunting di Jambi yang mencapai 17,1 persen dan harus segera ditangani secara serius.

“Kenaikan ini harus jadi perhatian serius. Kita perlu langkah-langkah progresif, memperkuat data, SDM, kelembagaan, serta sinergi antar lembaga agar angka tersebut bisa ditekan,” tegasnya.

Tak hanya itu, fenomena sosial seperti “fatherless” juga menjadi perhatian, mengingat sekitar 25 persen anak usia 0–14 tahun kehilangan figur ayah.

“Sekitar 25 persen anak kehilangan figur ayah. Ini berpotensi memicu berbagai masalah sosial jika tidak kita tangani bersama,” ungkapnya.

Gubernur juga mengungkapkan bahwa angka kematian bayi dan ibu masih menjadi pekerjaan rumah, meskipun menunjukkan tren penurunan.

“Tak hanya itu, angka kematian bayi dan ibu juga masih menjadi perhatian. Meski cenderung menurun, data menunjukkan Angka Kematian Bayi (AKB) di Jambi berada di angka 16,99 per 1.000 kelahiran, sementara Angka Kematian Ibu (AKI) mencapai 177 per 100.000 kelahiran,” tambahnya.

Di akhir sambutannya, Gubernur Al Haris mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat sinergi dalam menyukseskan program Bangga Kencana sebagai bagian dari visi pembangunan daerah.

“Ke depan, kita harus lebih serius, lebih kompak, dan lebih fokus. Dengan kerja sama yang kuat, kita optimistis berbagai persoalan kependudukan di Jambi bisa kita atasi,” pungkasnya. (Ais)