Diduga Kaya,Ternyata Hanya Gaya

Di era modernisasi saat ini, baik gaya hidup maupun pola konsumsi menjadi suatu hal yang sangat menarik untuk di perbincangkan. Tentu dengan majunya zaman dan perkembangan IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi).

Maka dapat mempermudah manusia untuk melakukan segala aktivitas, termasuk perihal berbelanja, dengan timbulnya Market Place dapat mendorong terjadinya sifat hidup boros.

Gejala yang timbul saat ini adalah “Hedonisme”, yaitu gaya hidup yang mewah. Dengan adanya gejala ini secara otomatis akan mempengaruhi manusia untuk menuntut keadaan agar terlihat kaya, dengan cara membeli berbagai macam barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan sama sekali.

Baca Juga :  Pentingnya Sertifikasi Kompetensi Wartawan

Lantas bagaimana dengan individu yang memiliki modal terbatas namun tetap ingin terlihat kaya? Nah, hal ini yang akan menjadi pemicu terjadinya perilaku menyimpang seperti berbohong, mencuri, dsb. Inilah dampak apabila manusia tidak dapat menerapkan skala prioritas kebutuhan.

Tulisan ini berangkat dari fenomena Hedonisme yang telah menjamur di kalangan masyarakat khusunya generasi muda/milenial, tentu hal ini bertentangan dengan kaidah kaidah islam, Indvidu harusnya mampu mengetahui bahwa islam memberi batasan-batasan dalam bergaya dan berkonsumsi. Banyaknya dampak negatif dari gaya hidup mewah dan boros ini, tentu akan merusak moral dan etika setiap individu yang terpengaruh.

Baca Juga :  Peran Pendidikan dalam Meningkatkan Perekonomian Suatu Negara

Sebelum membahas tentang bagaimana lebih rinci mengenai fenomena hedonisme dan sifat boros ini dalam kehidupan,berikut akan di jelas mengenai pengertian hedonisme dan sifat boros secara lebih luas.

Pengertian Hedonisme secara etimologi Hedonisme diambil dari bahasa yunani yaitu “Hedone” yang artinya kesenangan. Secara sederhana pengertian Hedonisme mengacu pada paham kesenangan terhadap kenikmatan.