“Itu menunjukkan bahwa kita melepaskan semua atribut duniawi. Pangkat, kekayaan, bahkan merasa paling alim atau intelektual, semuanya tidak berarti apa-apa di hadapan Allah selain sebagai hamba-Nya,” tutur Kiai Cholil.
Ia juga menjelaskan makna Arafah sebagai momentum untuk mengenal diri dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
“Saat kita melepaskan atribut dunia, kita belajar mengenal diri sendiri. Kalau diri sendiri saja tidak kenal, bagaimana akan mengenal Allah yang menciptakan dirinya,” katanya.
Di momen wukuf yang disebut sebagai tempat paling mustajab untuk berdoa, Kiai Cholil mengajak jamaah memurnikan tauhid dan tidak menjadikan hal duniawi sebagai sesuatu yang dituhankan.
“Pastikan yang dituhankan hanya Allah. Bukan jabatan, bukan harta, bukan popularitas, dan bukan pula intelektual,” pungkasnya. (**)
Editor ; Syukur
Sumber : MUI Digital









