Bukti Empiris dan Dampak Sosial Ekonomi
Penelitian empiris di berbagai daerah Indonesia juga membuktikan hal ini. Misalnya, studi oleh Tambunan (2020) dan Kuncoro (2018) menunjukkan bahwa peningkatan investasi daerah sebesar 1% mampu mendorong pertumbuhan ekonomi antara 0,4–0,7% dan meningkatkan penyerapan tenaga kerja hingga 0,3%.
Maka, kontraksi PMTB di Jambi tak hanya berarti menurunnya pembangunan fisik, tetapi juga melemahnya peluang kerja bagi ribuan masyarakat usia produktif.
Strategi Pemulihan dan Peluang Baru
Perlambatan investasi bukanlah akhir dari cerita, melainkan jeda untuk berbenah. Ekonomi Jambi masih memiliki “otot-otot” yang kuat untuk bangkit.
Pemerintah daerah kini menggenjot berbagai strategi pemulihan, seperti percepatan proyek infrastruktur daerah, penguatan investasi hijau (green investment), dan penyederhanaan perizinan berbasis digital. Sektor perkebunan dan energi baru terbarukan mulai dilirik sebagai motor pertumbuhan baru yang lebih tahan terhadap gejolak global.
Bila langkah ini diiringi dengan dukungan fiskal dan kebijakan yang berpihak pada sektor produktif, maka kontraksi ini bisa berbalik menjadi momentum kebangkitan.
Prospek Kuartal IV dan Pertumbuhan Ekonomi Jambi 2025
Memasuki kuartal IV tahun 2025, Jambi ibarat pelari yang tersandung di tengah lomba—namun tidak menyerah. Dengan koordinasi kebijakan fiskal, dorongan konsumsi masyarakat, dan geliat investasi publik yang meningkat, pemulihan masih sangat mungkin terjadi.
Kuncinya adalah percepatan pelaksanaan proyek infastruktur daerah, mengembalikan kepercayaan investor, mengoptimalkan belanja modal daerah, dan memastikan proyek-proyek padat karya berjalan efektif.
Untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di kuartal IV-2025, perlu dilakukan pemulihan cepat pada sisi investasi. Beberapa strategi kebijakan yang relevan antara lain:








