Bang Jeck
Sosial  

Bullying Ancam Tumbuh Kembang Anak, Kemensos Soroti Peran Lingkungan Sosial

Ilustrasi seorang pelajar menjadi korban perundungan oleh teman sebaya di lingkungan sekolah. Foto: Madi

SIDAKPOST.ID, JAKARTA — Kementerian Sosial menegaskan pentingnya peran lingkungan sosial yang sehat dalam mencegah praktik bullying atau perundungan pada anak. Fenomena ini dinilai bukan sekadar konflik biasa, melainkan tindakan kekerasan yang dilakukan secara sengaja dan berulang terhadap pihak yang lebih lemah.

Dilansir dari laman resmi Kementerian Sosial, bullying berbeda dengan pertengkaran anak pada umumnya. Jika konflik biasa menjadi bagian dari proses belajar bersosialisasi, bullying justru bertujuan menyakiti korban, baik secara fisik maupun psikologis, dan sering kali melibatkan ketimpangan kekuatan.

Perilaku bullying sendiri memiliki berbagai bentuk, mulai dari fisik seperti memukul atau mendorong, hingga nonfisik seperti menghina, mengancam, atau mempermalukan. Selain itu, perkembangan teknologi juga memunculkan cyberbullying yang dilakukan melalui media digital.

Baca Juga :  Dampak Ketimpangan Sosial yang Tinggi

Kemensos menyoroti bahwa dampak bullying sangat serius bagi tumbuh kembang anak. Tidak hanya menimbulkan luka fisik, perundungan juga dapat memicu gangguan mental seperti depresi, menurunkan kepercayaan diri, hingga menghambat perkembangan sosial dan kemampuan belajar anak. Bahkan dalam jangka panjang, korban dapat mengalami trauma mendalam dan kesulitan beradaptasi di lingkungan sosial.

Dalam upaya pencegahan, peran lingkungan sosial dinilai menjadi faktor utama. Keluarga disebut sebagai garda terdepan karena memiliki intensitas interaksi paling tinggi dengan anak. Orang tua diharapkan mampu membangun komunikasi yang terbuka, memberikan teladan, serta menciptakan suasana rumah yang aman dan nyaman.

Selain keluarga, sekolah juga memiliki tanggung jawab besar dalam menciptakan lingkungan yang ramah anak dan bebas bullying. Penerapan kebijakan tegas, peningkatan peran guru sebagai pembimbing, serta penyediaan layanan konseling menjadi langkah penting dalam mencegah perundungan di lingkungan pendidikan.

Baca Juga :  Gila..Seorang Ayah, Cabuli Anak Tiri

Tak kalah penting, masyarakat juga berperan sebagai pengamat atau bystander yang dapat membantu menghentikan bullying dengan meningkatkan empati dan keberanian untuk bertindak. Sementara itu, pemerintah diharapkan terus memperkuat regulasi serta melakukan sosialisasi guna menekan kasus perundungan di berbagai sektor.

Kemensos menekankan bahwa kolaborasi seluruh elemen; keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan sosial yang sehat. Dengan demikian, anak-anak dapat tumbuh dengan karakter positif tanpa bayang-bayang kekerasan dan perundungan. (Sum)