SIDAKPOST.ID, BUNGO – Musim kemarau menjadi tantangan bagi petani kelapa sawit. Berkurangnya curah hujan dapat menyebabkan tanaman mengalami kekurangan air, menghambat pembentukan bunga dan buah, hingga menurunkan produksi tandan buah segar (TBS).
Namun, petani tetap dapat menjaga kondisi kebun agar produktivitas tidak merosot tajam. Kuncinya adalah menerapkan perawatan yang tepat, menjaga kelembapan tanah, mengelola air, serta menyesuaikan pemupukan dengan kondisi cuaca.
Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Perkebunan mendorong sejumlah langkah mitigasi kekeringan, mulai dari konservasi air, pemanfaatan bahan organik, hingga pengaturan tata air sesuai karakteristik lahan.
Berikut beberapa tips yang dapat diterapkan petani sawit untuk menghadapi musim kemarau.
1. Jaga Kelembapan Tanah dengan Pelepah dan Bahan Organik
Salah satu cara sederhana untuk menjaga kelembapan tanah adalah memanfaatkan pelepah sawit hasil pemangkasan sebagai mulsa.
Pelepah dapat disusun secara teratur di area kebun untuk membantu mengurangi penguapan air dari permukaan tanah. Bahan organik seperti kompos dan tandan kosong kelapa sawit juga dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki struktur tanah serta meningkatkan kemampuannya menyimpan air.
Penggunaan bahan organik perlu disesuaikan dengan kondisi lahan dan kebutuhan tanaman. Dengan pengelolaan yang tepat, tanah di sekitar perakaran diharapkan tidak cepat kehilangan kelembapan ketika hujan mulai jarang turun.
2. Siapkan Cadangan Air Sejak Awal
Petani sebaiknya tidak menunggu tanaman menunjukkan gejala kekeringan untuk mulai mengelola air.
Pembuatan rorak, sumur resapan, embung, dan parit konservasi dapat membantu menampung air hujan serta meningkatkan penyerapan air ke dalam tanah. Pemilihan sarana tersebut perlu disesuaikan dengan luas kebun, kondisi tanah, topografi, dan ketersediaan air.









