Pada tanaman kelapa sawit yang belum menghasilkan, penyiraman dapat dipertimbangkan apabila sumber air tersedia dan kondisi tanaman membutuhkannya.
Khusus pada lahan gambut, tata air harus dikelola secara hati-hati agar kelembapan tetap terjaga dan lahan tidak mengalami kekeringan berlebihan.
3. Jangan Asal Memberikan Pupuk
Pemupukan menjadi bagian penting dalam menjaga pertumbuhan dan produksi kelapa sawit. Namun, pemberian pupuk ketika tanah terlalu kering perlu diperhatikan karena ketersediaan air memengaruhi pelarutan dan penyerapan unsur hara oleh akar.
Petani disarankan menyesuaikan waktu pemupukan dengan curah hujan, kondisi tanah, umur tanaman, serta kebutuhan unsur hara. Hindari menambah dosis pupuk secara sembarangan dengan harapan tanaman tetap berbuah lebat.
Pemupukan yang tidak tepat bukan hanya berpotensi memboroskan biaya, tetapi juga dapat membuat unsur hara tidak dimanfaatkan secara optimal.
Apabila kekeringan berlangsung panjang, petani dapat berkonsultasi dengan penyuluh perkebunan untuk menentukan waktu dan dosis pemupukan yang sesuai.
4. Kendalikan Gulma, tetapi Jangan Membiarkan Tanah Terbuka
Gulma dapat bersaing dengan tanaman sawit dalam memperoleh air dan unsur hara. Karena itu, pengendalian gulma tetap diperlukan, terutama di sekitar tanaman muda.
Meski demikian, pembersihan gulma sebaiknya dilakukan secara selektif. Tidak semua vegetasi penutup tanah harus dihilangkan karena penutup tanah yang dikelola dengan baik dapat membantu mengurangi penguapan dan erosi.
Petani juga dapat mempertimbangkan tanaman penutup tanah yang sesuai dengan kondisi kebun. Pengelolaan ini perlu dilakukan secara terencana agar tidak menimbulkan persaingan berlebihan dengan tanaman utama.
5. Pantau Kondisi Tanaman dan Produksi Secara Berkala
Selama musim kemarau, petani perlu lebih sering memeriksa kondisi pelepah, pertumbuhan daun, perkembangan bunga, serta pembentukan buah.









