Cuaca Ekstrem 50 Derajat Mendadak Reda Saat Wukuf, Kiai Cholil: Pertolongan Allah di Arafah

Ketua Musyrif Diny, KH M Cholil Nafis. Foto : MUI DIGITAL

SIDAKPOST.ID, ARAFAH – Pelaksanaan wukuf di Padang Arafah pada musim haji tahun ini diwarnai suasana haru dan penuh rasa syukur dari para jamaah.

Setelah beberapa hari sebelumnya dilanda suhu ekstrem hingga mencapai 49–50 derajat Celsius, cuaca di Arafah mendadak terasa lebih sejuk saat puncak wukuf berlangsung.

Ketua Musyrif Diny, KH M Cholil Nafis, menyebut perubahan cuaca tersebut sebagai bentuk pertolongan Allah SWT bagi para jamaah haji yang tengah menjalankan rukun utama ibadah haji.

“Memang pada tanggal 18 dan 19 kemarin panas sekali sampai 49 bahkan 50 derajat. Tapi hari ini sekitar 40 derajat, jadi tidak terlalu panas,” ujarnya.

Baca Juga :  Perubahan Merek APREA Merayakan 16 tahun Advokasi Industri Jangka Panjang dalam "Masa Depan Aset Nyata"

Kiai Cholil Nafis di Arafah, Arab Saudi, Selasa (26/5/2026) waktu setempat.
Menurutnya, kondisi cuaca yang lebih bersahabat membuat jamaah lebih nyaman menjalani ibadah di luar tenda.

“Di Arafah ini mungkin pertolongan dari Allah SWT. Saat wukuf hari ini dibanding hari-hari sebelumnya terasa tidak terlalu panas,” katanya.

Wakil Ketua Umum MUI itu mengungkapkan, banyak jamaah terlihat bisa beraktivitas di luar tenda, seperti membaca Al-Qur’an dan berzikir di bawah pepohonan tanpa terlalu terganggu cuaca panas.

“Saya tadi keluar untuk kontrol, sebagian jamaah terlihat nyaman berada di luar. Ada yang berteduh di bawah pohon sambil membaca Al-Qur’an, seperti tidak terasa panas,” ungkapnya.

Baca Juga :  Sukses Kelola Manajemen Risiko, Jasa Raharja Raih Penghargaan Bergengsi di Tingkat ASEAN

Kiai Cholil juga mengingatkan bahwa wukuf di Arafah merupakan rukun paling utama dalam ibadah haji. Ia menegaskan, haji seseorang tidak sah tanpa melaksanakan wukuf.

“Al-hajju Arafah, inti haji itu adalah wukuf di Arafah,” tegasnya.

Selain itu, Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah tersebut menjelaskan makna filosofis pakaian ihram yang dikenakan jamaah haji. Menurutnya, dua helai kain putih tanpa jahitan menjadi simbol hilangnya sekat sosial di hadapan Allah SWT.