UPI Bahas Pengembangan Robot Humanoid Berbasis AI untuk Asisten Pengajaran Bahasa Inggris

Empat akademisi UPI dari FPBS, SPs, dan FPTI saat mengikuti Focus Group Discussion (FGD) pengembangan robot humanoid berbasis AI untuk asisten pembelajaran bahasa Inggris di Laboratorium Robotika UPI, Bandung, Kamis (21/5/2026). Foto: Upi.edu/ Ruswan

SIDAKPOST.ID, BANDUNG – Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menggelar Focus Group Discussion (FGD) yang membahas peluang pengembangan robot humanoid berbasis kecerdasan buatan (AI) sebagai asisten pembelajaran bahasa Inggris, Kamis (21/5/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Laboratorium Robotika lantai 7 Gedung FPTI UPI itu mempertemukan akademisi dari tiga unit berbeda, yakni Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra (FPBS), Sekolah Pascasarjana (SPs), dan Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan (FPTI).

FGD tersebut menjadi bagian dari komitmen UPI dalam merespons perkembangan teknologi kecerdasan buatan, robotika, dan pendidikan digital yang semakin pesat.

Dalam diskusi itu, para peserta menilai perguruan tinggi harus mulai mempersiapkan integrasi teknologi cerdas ke dalam lingkungan pembelajaran di kelas.

Hadir dalam kegiatan tersebut sejumlah akademisi dari berbagai disiplin ilmu, mulai dari linguistik, linguistik komputasional, teknologi pendidikan, kecerdasan buatan hingga teknik robotika.

Dari FPBS hadir Dr. Farida Hidayati, M.Pd. dari Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris yang memiliki fokus keahlian pada Digital Linguistics. Sementara dari SPs hadir Dr. Ruswan Dallyono, M.Pd. dari Program Linguistik yang membahas perspektif Computational Linguistics.

Sedangkan dari FPTI hadir Kepala Program Studi Pendidikan Teknik Otomasi Industri dan Robotika (PTOIR), Dr. Erik Hartman, bersama Resa Pramudita, S.Pd., M.T. yang memberikan pandangan mengenai sistem robotika dan integrasi AI.

Sejak awal diskusi, para peserta menyoroti transformasi teknologi yang berkembang sangat cepat dan pentingnya dunia pendidikan beradaptasi dengan perubahan tersebut.

Dr. Farida Hidayati menjelaskan bahwa studi bahasa modern kini semakin berkaitan erat dengan teknologi digital, machine learning, dan interaksi manusia-komputer.

Menurutnya, Digital Linguistics membuka peluang baru dalam memahami bagaimana bahasa dapat diproses, dianalisis, dan diajarkan melalui sistem cerdas.

“Today’s students are digital natives. They are already accustomed to interacting with technology in their daily lives. Educational robots powered by AI may help create more engaging, interactive, and personalized learning experiences,” ujarnya dalam diskusi.

Baca Juga :  Bocah SD Berseragam Sekolah Ditemukan Tewas di Dasar Dam

Ia menambahkan, robot humanoid yang mampu berinteraksi secara alami berpotensi membantu siswa dalam latihan berbicara, pelafalan, kosakata, hingga percakapan bahasa Inggris.

Sementara itu, Dr. Ruswan Dallyono menegaskan bahwa pengembangan robot pendidikan berbasis AI membutuhkan sistem pemrosesan bahasa yang kompleks.

“Natural interaction requires advanced language-processing systems. The robot needs speech recognition, natural language processing, semantic understanding, contextual interpretation, and conversational AI capabilities,” jelasnya.

Menurutnya, tantangan terbesar adalah menciptakan interaksi yang terasa alami dan tidak sekadar bersifat scripted.

“If the interaction is purely scripted, students will quickly lose interest. The goal is to create interaction that feels natural, adaptive, and educationally meaningful,” tambahnya.

Dalam FGD tersebut, peserta juga membahas praktik penggunaan robot pendidikan di sejumlah negara seperti China dan Finlandia.

Di China, robot pendidikan telah digunakan dalam pembelajaran bahasa Inggris, matematika, dan STEM. Sedangkan di Finlandia, robot sosial dimanfaatkan untuk mendukung pembelajaran personal dan kolaboratif.

Para peserta menilai tren pendidikan berbasis AI tersebut menunjukkan perubahan global yang perlu direspons perguruan tinggi di Indonesia.

“UPI should not remain passive while educational transformation is happening globally. Universities must become innovators and contributors to future educational technologies,” ungkap salah satu peserta.

Meski demikian, pengembangan robot humanoid berbasis AI dinilai membutuhkan biaya yang sangat besar.

Dr. Erik Hartman menjelaskan bahwa pengembangan robot humanoid dinamis dengan kemampuan interaksi alami dapat menelan biaya sekitar Rp260 juta bahkan lebih.

Menurutnya, pengembangan tersebut memerlukan integrasi perangkat keras dan perangkat lunak canggih, mulai dari aktuator, sensor, computer vision, prosesor AI, hingga infrastruktur machine learning.

Ia juga menyebutkan bahwa skema pendanaan penelitian nasional seperti BIMA masih belum cukup untuk mendukung pengembangan robot humanoid berskala besar.

“The maximum BIMA research funding of around IDR 150 million is extremely helpful for many projects, but for advanced humanoid robotics, much larger funding is required,” katanya.

Baca Juga :  Bripka Roy Pembina Upacara HUT Korpri Ke 50, di SDN 118/VIII Rimbo Bujang

Karena itu, peserta FGD juga membahas peluang pendanaan internasional seperti Erasmus+ dan program riset kolaboratif global lainnya.

Di sisi lain, Resa Pramudita, S.Pd., M.T. menilai pengembangan robot pendidikan harus dilakukan secara realistis dan berkelanjutan.

Menurutnya, tahap awal dapat dimulai dari pengembangan robot modular dan prototipe sederhana yang terjangkau untuk eksperimen pendidikan.

“Technology development must be realistic and sustainable. We should begin with prototypes that are affordable and functional for educational experimentation. From there, the system can gradually evolve into more advanced humanoid platforms,” ujarnya.

FGD tersebut juga menyimpulkan bahwa UPI sebaiknya memulai dari proyek eksperimental berskala kecil sebelum membangun robot humanoid canggih secara penuh.

Robot pendidikan sederhana dengan kisaran harga Rp3 juta hingga Rp10 juta dinilai dapat menjadi langkah awal untuk riset interaksi AI dalam pembelajaran bahasa.

Para peserta menegaskan bahwa robot tidak dimaksudkan untuk menggantikan guru, melainkan sebagai asisten pembelajaran.

Robot dinilai mampu membantu latihan berbicara secara berulang, memberikan umpan balik pelafalan secara langsung, serta menciptakan suasana belajar yang lebih interaktif.

Namun demikian, peserta sepakat bahwa peran guru tetap tidak tergantikan karena pendidikan melibatkan empati, pemahaman emosional, dan interaksi sosial.

“Teachers remain irreplaceable. Technology should support teachers, not replace them,” tegas Dr. Farida Hidayati.

FGD diakhiri dengan optimisme terhadap peluang kolaborasi riset lintas disiplin di lingkungan UPI, mulai dari Digital Linguistics, Computational Linguistics, Robotika, Artificial Intelligence, hingga Teknologi Pendidikan.

Sejumlah gagasan riset yang dibahas meliputi robot asisten berbicara berbasis AI, sistem penilaian pelafalan otomatis, chatbot pendidikan, robot sosial untuk interaksi kelas, hingga platform pembelajaran bahasa berbasis AI.

Melalui kolaborasi tersebut, UPI berharap dapat menjadi salah satu perguruan tinggi terdepan di Indonesia dalam pengembangan riset AI dan robotika pendidikan.

Editor: Madi