Terkait tudingan makanan basi atau buah busuk, pihak SPPG menyatakan makanan disiapkan sesuai prosedur distribusi harian dan pengawasan standar konsumsi. Menu disebutkan telah melalui proses pengemasan aman dan diperuntukkan konsumsi pada hari yang sama, bukan disimpan lama.
Pihak penyelenggara juga menegaskan bahwa perubahan jenis menu menjadi kering justru untuk menjaga ketahanan makanan selama bulan puasa, sehingga lebih aman dibanding menu basah.
Kapolres Bungo, AKBP Natalena Eko Cahyono, saat dimintai tanggapan menegaskan pihaknya tidak tinggal diam terhadap polemik tersebut. Ia menyatakan jajaran akan melakukan evaluasi internal terhadap pelaksanaan program MBG di wilayah hukum Polres Bungo.
Menurutnya, pengawasan kualitas makanan merupakan prioritas karena program tersebut menyangkut kesehatan masyarakat, khususnya pelajar dan kelompok rentan penerima manfaat. Ia juga memastikan setiap laporan masyarakat akan ditindaklanjuti dengan verifikasi lapangan.
“Kami terbuka terhadap kritik masyarakat. Evaluasi akan dilakukan agar standar kualitas, kuantitas, dan gizi tetap terjaga sesuai tujuan program,” tegasnya.
Viralnya video ini memicu perdebatan di media sosial lokal. Sebagian warga menilai menu masih layak, sementara lainnya menyoroti kesesuaian harga dan kualitas bahan. Diskusi publik tersebut kini menjadi perhatian pihak kepolisian dan penyelenggara program.
Kapolres menambahkan koordinasi dengan pihak terkait, termasuk unsur pengawasan pangan dan kesehatan, akan diperkuat agar distribusi berikutnya berjalan lebih optimal dan tidak menimbulkan polemik serupa. (Ari)







