Peringatan Hari Pahlawan 2025: Antara Spirit Patriotik vs Digital

Prof. Dr. Mukhtar Latif, M.Pd Tenaga Ahli Gubernur Jambi, Ketua ICMI Orwil Jambi – Guru Besar UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. Foto: Diskominfo Provinsi Jambi

Regulasi dan Moralitas Menghargai Pahlawan: Sikap Generasi Lintas Zaman

Sikap menghargai pahlawan kini diatur oleh Regulasi dan didorong oleh Moralitas. Secara legal, selain UU 20/2009, nilai-nilai kepahlawanan diwariskan melalui kurikulum pendidikan nasional (PP 57/2021 tentang Standar Nasional Pendidikan). Namun, regulasi saja tidak cukup. Dibutuhkan moralitas publik yang berkesinambungan dan kesadaran bahwa pahlawan adalah bagian dari Pendidikan Karakter dan Kebangsaan (Dewantara, 2021).

Sikap generasi lintas zaman terhadap pahlawan tidak boleh stagnan hanya pada seremoni bunga. Generasi Z dan Alpha perlu didorong untuk mewujudkan spirit pahlawan dalam bentuk kontribusi nyata di bidang keahliannya, termasuk dalam pemanfaatan media sosial secara positif (Mulyadi, 2023).

Peringatan Hari Pahlawan 2025 harus menjadi momentum untuk mengalihkan fokus dari “mengenang masa lalu” menjadi “membangun masa depan” (Wibowo, 2023, hlm. 10; Budiman, 2018, hlm. 160). Menghargai pahlawan berarti menjaga integritas bangsa di hadapan tantangan global.

Baca Juga :  Training For Traine Pengajar Peduli Keselamatan Lalu Lintas Guru SMA N 8 Tanjung Jabung Timur

Penutup

Peringatan Hari Pahlawan 2025 adalah cermin ganda. Satu sisi memantulkan heroisme fisik yang menginspirasi, sisi lain memantulkan medan perjuangan digital yang dinamis. Spirit patriotik kepahlawanan tidak hilang, melainkan berevolusi. Generasi muda kini mewarisi kewajiban untuk menjadi pahlawan yang memerangi digital poverty, menjaga kedaulatan siber, dan memastikan nilai-nilai kebangsaan tetap relevan di tengah banjir informasi.

Baca Juga :  Kerja Sama Strategis PT Jasa Raharja dengan Universitas Gadjah Mada

Kepahlawanan kontemporer adalah tentang kepemimpinan dengan integritas dan pengorbanan digital yang dilakukan tanpa gimmick atau motivasi viral. Tugas kita adalah memandu pergeseran ini, memastikan bahwa moto “Hero is Not Die” tetap hidup, bukan hanya di monumen batu, tetapi di setiap unggahan, tindakan, dan keputusan yang membangun masa depan bangsa (Hardjono, 2022).