Peringatan Hari Pahlawan 2025: Antara Spirit Patriotik vs Digital

Prof. Dr. Mukhtar Latif, M.Pd Tenaga Ahli Gubernur Jambi, Ketua ICMI Orwil Jambi – Guru Besar UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. Foto: Diskominfo Provinsi Jambi

Teori Spirit Kepahlawanan: Hero is Not Die

Secara sosiologis dan psikologis, konsep kepahlawanan bersifat abadi, seperti frasa “Hero is Not Die.” Teori kepahlawanan, seperti yang dianalisis oleh Joseph Campbell dalam The Hero’s Journey, menunjukkan bahwa pahlawan adalah arketipe yang harus melalui penolakan, cobaan berat, dan akhirnya kembali dengan “hadiah” untuk masyarakat (Campbell, 2008, p. 12). Inti dari kepahlawanan adalah transendensi diri (pengorbanan kebutuhan pribadi demi kebaikan kolektif).

Dalam konteks modern, kepahlawanan tidak harus berupa kematian di medan perang. Ia mencakup keberanian moral dan integritas intelektual. Pahlawan era digital adalah mereka yang konsisten menjaga nilai luhur Pancasila dan persatuan bangsa di tengah gempuran ideologi transnasional dan disinformasi (Setiawan & Santoso, 2023, hlm. 315). Spirit kepahlawanan kini juga mencakup usaha menjaga ketahanan nasional dari ancaman disinformasi (Supriyanto, 2023).

Sejarah Kepahlawanan Tanah Air: Kriteria dan Jenis Pahlawan

Sejarah mencatat, kepahlawanan di Indonesia dilembagakan melalui kriteria resmi. Merujuk pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan, kriteria seorang Pahlawan Nasional mencakup: “pernah memimpin dan/atau melakukan perjuangan bersenjata atau perjuangan politik/bidang lain untuk merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan… tidak pernah menyerah… dan berdampak luas bagi kelangsungan bangsa.” (UU 20/2009, Pasal 2).

Baca Juga :  GGAT Indonesia Sukses Gelar Advanture di Rantua Pandan

Secara data, pada peringatan Hari Pahlawan 10 November 2025, Presiden secara resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada 10 tokoh baru, yang menjadikan jumlah total Pahlawan Nasional Indonesia kini mencapai 216 tokoh (Setneg RI/Kompas.com, 2025).

Baca Juga :  Jasa Raharja Gelar Diklat Bagi Nakhoda dan ABK Antisipasi Kecelakaan di Laut

Kesepuluh tokoh yang ditetapkan tersebut adalah:
(1) K.H. Abdurrahman Wahid,
(2) Jenderal Besar TNI H.M. Soeharto,
(3) Marsinah,
(4) Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmaja,
(5) Hajjah Rahmah El Yunusiyah,
(6) Jenderal TNI (Purn) Sarwo Edhie Wibowo,
(7) Sultan Muhammad Salahuddin,
(8) Syaikhona Muhammad Kholil,
(9) Tuan Rondahaim Saragih, dan
(10) Zainal Abidin Syah.

Keragaman tokoh ini menunjukkan bahwa kepahlawanan tidak hanya terbatas pada satu profesi, melainkan pada esensi pengabdian (Rasyid & Siregar, 2021, hlm. 205).