Di sampig itu dia berwibawa, tegas dan ramah dengan siapa saja, dia juga taat pada agama (terakhir menjadi Bupati Sarolangun Bangko). Beliau disegani anak buahnya. Pergaulan anggota pasukannya dengan rakyat sangat akrab. Kalau tiba masa menuai padi mereka ikut menuai padi.
Kalau masa menanam padipun mereka ikut baselang nugal kecuali yang bertugas di Pos jaga dan Markas.Kalau baselang nugal ada hiburan joget (tari-tarian dan senandung Melayu). Anak buah Letnan muda M Syukur Pidin semua hebat berjoget kecuali Kopral Ma’ruf (orang Betawi) dia bisa ala ronggeng.
Lain lagi dengan Prajurit Bakar Mulya (orang Melayu) lebih suka lagu2 melayu. Kalau yg orang Bungo tidak ketinggalan Pisang Kayak dan tari tauh. Jangan dikira Letnan muda M Syukur Pidin tidak bisa menumbuk padi, malah ikut menumbuk padi bersama para gadis2 dusun, orang bilang kalau letnan muda M Syukur Pidin menumbuk cepat ceruh (menjadi beras). Begitulah akrabnya TNI bersama rakyat.
Pada 1948 terjadilah aksi militer Belanda ke 2. Pasukan Seksi III Kompi II diganti dengan pasukan seksi II kompi II yang dipimpin Letnan muda Aziz Larose yang dikenal dengan “Pasukan Sayang Terbuang” dengan anak buahnya :
1. Daud Hasan : Sersan
2. Harun : Sersan
3. Hamid : Sersan
4. A. Nasrun : Sersan
5. Majid Pidin : Sersan
6. Mansur : Sersan
7. Dolah Gilo : Kopral
8. Ahmad. K : Kopral
9. Yahya : Kopral
10. Ismail Tobing : Kopral
11. Mat Kuaci : Kopral
12. Mat Taam : Kopral
13. Munir : Kopral
14. Daud : Kopral
15. Musa : Prajurit
16. Syam : Prajurit
17. M. Nur : Prajurit
18. Suratman : Prajurit
19. Idrus : Prajurit
20. Abdullah kahar :
Prajurit Pimpinan Front Batanghari Area :
-Komandan : Letnan Satu Hasyim
-Staf : – Letnan Muda Marjono
– Sersan Mayor Idris
– Sersan Mayor Sumardi
-Dengan komandan Sub Sektor 1001/STD : Act. Letnan Muda Marjono
-Komando Keamanan Marga (KKM) : Sersan Mayor Muhtar Ishak
-Pelatih : Sersan Mat Jais







