Ribuan Warga Terpaksa Mengungsi, Logistik Mulai Menipis. Kurang lebih 700 warga kini bertahan di masjid, musala, dan rumah-rumah kerabat. Sebagian hanya beralaskan tikar tipis, tanpa selimut, tanpa pasokan makanan memadai.
Di titik pengungsian, terdengar suara anak-anak menangis tengah malam karena kedinginan.
Tidak ada listrik. Tidak ada air bersih. Tidak ada kepastian.
Inilah wajah bencana yang sesungguhnya, Inilah Saatnya: Pemerintah Harus Turun Tangan dan Menetapkan Bencana Nasional.
Dengan jumlah korban tewas puluhan, hilang puluhan, pengungsi ratusan, kerusakan infrastruktur masif, serta terisolirnya wilayah, status bencana Palembayan sudah melampaui kemampuan daerah.
Ini bukan lagi masalah Kabupaten Agam.
Ini bukan lagi masalah Sumatera Barat.
Ini adalah masalah bangsa.
Ketika daerah sudah kewalahan, maka pemerintah pusat wajib hadir, bukan sekadar mengirimkan belasungkawa.
Mengapa perlu status Bencana Nasional?
1. Mempercepat pengerahan alat berat dan tim SAR dari berbagai provinsi.
2. Memungkinkan dukungan penuh dari BNPB, Basarnas pusat, TNI, dan Polri.
3. Memastikan suplai logistik besar-besaran tanpa terhambat urusan administratif daerah.
4. Mempercepat pemulihan darurat, termasuk relokasi warga dan rekonstruksi jembatan/jalan.
5. Mengurangi beban pemerintah daerah yang sudah kolaps secara operasional.
Jika kita terlambat mengambil keputusan, maka jumlah korban bisa bertambah bukan karena bencana alam, tetapi karena kelalaian negara dalam menyelamatkan rakyatnya sendiri.
Palembayan Tidak Butuh Janji, Mereka Butuh Negara Hadir Secara Total ”
Setiap menit yang hilang berarti satu nyawa bisa terlewat dari pencarian. Setiap jam tanpa logistik berarti satu anak bisa jatuh sakit. Setiap malam tanpa tenda layak berarti satu keluarga hidup dalam kegelapan dan ketakutan.







