SIDAKPOST.ID, JAKARTA – Fenomena “brain rot” atau penurunan kualitas daya pikir akibat paparan konten digital berlebihan kini menjadi perhatian serius pemerintah. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, mengingatkan bahwa kondisi ini berpotensi menggerus kemampuan berpikir kritis generasi muda Indonesia.
Dilansir dari YouTube Kompas.com, Abdul Mu’ti menegaskan bahwa konsumsi konten yang bersifat dangkal, repetitif, dan minim nilai edukatif dapat berdampak langsung pada penurunan fungsi kognitif. Ia menyebut, fenomena ini tidak bisa dianggap sepele karena berkaitan erat dengan kualitas sumber daya manusia di masa depan.
Menurutnya, era digital memang menghadirkan kemudahan akses informasi, namun tanpa pengawasan dan keseimbangan, justru dapat menimbulkan efek negatif. “Brain rot” menjadi simbol dari melemahnya daya analisis dan kemampuan berpikir mendalam akibat pola konsumsi informasi yang tidak sehat.
Di sisi lain, Mendikdasmen juga menyoroti posisi guru di tengah derasnya arus perkembangan teknologi. Ia menegaskan bahwa peran guru tidak akan tergantikan oleh teknologi, namun harus mengalami transformasi. Guru dituntut untuk adaptif, inovatif, serta mampu memanfaatkan teknologi sebagai alat pendukung pembelajaran, bukan sebagai ancaman.
“Guru tetap menjadi kunci utama dalam proses pendidikan, tetapi pendekatannya harus berubah mengikuti perkembangan zaman,” tegasnya.
Tak hanya itu, isu pendidikan berbasis STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) juga turut menjadi sorotan. Abdul Mu’ti mengakui bahwa selama ini STEM kerap dipersepsikan sebagai bidang yang sulit dan menakutkan bagi siswa. Padahal, dengan metode pembelajaran yang tepat, STEM justru bisa menjadi menarik dan relevan dengan kebutuhan masa depan.
Pemerintah, lanjutnya, terus mendorong inovasi dalam sistem pembelajaran agar lebih interaktif, kontekstual, dan mampu membangun kemampuan berpikir kritis serta kreatif peserta didik.
Ia pun menekankan pentingnya kolaborasi antara guru, orang tua, dan pemerintah dalam menghadapi tantangan ini. Tanpa sinergi yang kuat, upaya menciptakan ekosistem pendidikan yang sehat dan adaptif akan sulit terwujud.
“Ini bukan hanya tugas sekolah, tetapi tanggung jawab bersama untuk memastikan generasi muda tidak kehilangan kemampuan berpikirnya di tengah banjir informasi,” pungkasnya. (Sum)







