SIDAKPOST.ID, BUNGO – Dalam kehidupan sehari-hari, tidak sedikit persoalan besar berawal dari sesuatu yang tampak sederhana: sebuah cerita yang disampaikan dari satu orang kepada orang lain. Ketika cerita tersebut dibumbui, dipelintir, atau sengaja disampaikan untuk membuat seseorang membenci pihak lain, saat itulah perbuatan adu domba atau namimah dapat terjadi.
Dalam ajaran Islam, namimah merupakan akhlak tercela yang harus dijauhi. Para ulama dan ustaz mengingatkan bahwa orang yang gemar membawa perkataan seseorang kepada orang lain dengan tujuan merusak hubungan bukan sekadar melakukan kesalahan dalam pergaulan, tetapi juga dapat terjerumus ke dalam dosa.
Menurut penjelasan dalam kajian keislaman yang dimuat NU Online, namimah adalah menyampaikan perkataan seseorang kepada orang lain dengan tujuan merusak hubungan di antara keduanya. Rasulullah SAW memberikan peringatan keras terhadap pelaku namimah.
Bukan Sekadar Menyampaikan Cerita
Adu domba sering kali bersembunyi di balik kalimat sederhana seperti, “Saya sebenarnya tidak mau ikut campur, tapi saya hanya ingin memberitahu…”
Kalimat semacam itu bisa menjadi awal munculnya persoalan apabila informasi yang disampaikan bertujuan menimbulkan kebencian, kecurigaan, atau permusuhan.
MUI juga menjelaskan bahwa namimah merupakan tindakan mengadu domba antara satu pihak dengan pihak lainnya. Karena itu, seorang Muslim diperintahkan untuk berhati-hati dalam menerima maupun menyebarkan informasi.
Terlebih di era media sosial. Dahulu, adu domba mungkin hanya dilakukan melalui percakapan dari mulut ke mulut. Kini, satu pesan WhatsApp, unggahan media sosial, potongan video, atau komentar dapat menyebar kepada banyak orang hanya dalam hitungan menit.
Karena itu, jari jemari pun harus dijaga sebagaimana lisan.









