Adu Domba dalam Islam, Dosa yang Bisa Merusak Persaudaraan dan Mendatangkan Murka Allah

Ilustrasi seseorang menyampaikan bisikan yang dapat memicu kesalahpahaman dan konflik antarsesama, sebagai gambaran bahaya adu domba dalam kehidupan sosial. Foto: Madi/ AI

Rasulullah SAW Memberikan Peringatan Keras

Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW memberikan peringatan mengenai buruknya namimah. MUI mengutip hadis tersebut dengan makna bahwa pelaku namimah mendapatkan ancaman yang sangat keras.

Peringatan ini menunjukkan bahwa persoalan adu domba bukan perkara ringan.

Sebab, satu perkataan yang disampaikan tanpa tanggung jawab dapat menghancurkan kepercayaan yang telah dibangun bertahun-tahun. Persahabatan dapat berubah menjadi permusuhan, keluarga bisa saling menjauh, bahkan hubungan masyarakat dapat menjadi renggang hanya karena sebuah informasi yang tidak semestinya disampaikan.

Baca Juga :  Pesan UAH di Tahun Baru Islam, Sejatinya Kita Bisa Lebih Baik

Dalam sebuah khutbah yang dimuat NU Online, pelaku adu domba juga digambarkan sebagai orang yang bermuka dua: kepada satu kelompok menunjukkan keberpihakan, sementara kepada kelompok lain menunjukkan sikap yang berbeda.

Mengapa Adu Domba Sangat Berbahaya?

Adu domba tidak berhenti pada perkataan. Dampaknya dapat berkembang menjadi prasangka, pertengkaran, putusnya silaturahmi, bahkan permusuhan berkepanjangan.

Allah SWT mengingatkan umat Islam untuk menjauhi prasangka, mencari-cari kesalahan dan ghibah dalam QS Al-Hujurat ayat 12. MUI juga mengaitkan larangan tersebut dengan pentingnya menjaga kehormatan dan persaudaraan sesama manusia.

Baca Juga :  Keutamaan Hari Jum’at Bagi Umat Islam

Karena itu, seorang Muslim hendaknya tidak mudah percaya terhadap cerita yang datang dari orang lain, terutama cerita yang berpotensi membuat hubungan dengan seseorang menjadi buruk.

Tidak semua informasi harus diteruskan.

Tidak semua perkataan harus disampaikan.

Dan tidak semua hal yang kita dengar harus kita komentari.