Adu Domba dalam Islam, Dosa yang Bisa Merusak Persaudaraan dan Mendatangkan Murka Allah

Ilustrasi seseorang menyampaikan bisikan yang dapat memicu kesalahpahaman dan konflik antarsesama, sebagai gambaran bahaya adu domba dalam kehidupan sosial. Foto: Madi/ AI

Jangan Menjadi Kurir Konflik

Seorang ustaz dalam kajian keislaman mengingatkan bahwa orang yang suka membawa cerita dari satu pihak kepada pihak lain sebenarnya dapat menjadi “kurir konflik”. Ia mungkin merasa hanya menyampaikan apa yang didengar, tetapi jika penyampaian tersebut berujung pada permusuhan, maka akibatnya sangat besar. Pemahaman ini sejalan dengan penjelasan MUI bahwa namimah bukan sekadar informasi, tetapi dapat menjadi sarana provokasi dan perusakan hubungan.

Karena itu, sebelum menyampaikan sesuatu, seorang Muslim sebaiknya bertanya kepada dirinya sendiri:

Apakah informasi ini benar?

Apakah informasi ini perlu disampaikan?

Apakah menyampaikannya membawa manfaat atau justru menimbulkan masalah?

Jika tidak ada manfaat dan justru berpotensi menimbulkan permusuhan, maka diam menjadi pilihan yang lebih baik.

Baca Juga :  Ustadz Nasrullah Bahas Makna Rezeki dalam Kajian Magnet Rezeki: “Lain Ladang, Lain Ilalang”

Jangan Mudah Menjadi Korban Adu Domba

Tidak hanya pelaku adu domba yang harus berhati-hati. Orang yang menerima informasi juga harus bijaksana.

Jangan langsung mempercayai sebuah cerita hanya karena disampaikan oleh orang yang kita kenal. Jangan pula langsung marah sebelum melakukan klarifikasi kepada pihak yang bersangkutan.

Islam mengajarkan pentingnya tabayun atau memeriksa kebenaran informasi. Sikap ini semakin penting di tengah derasnya arus informasi digital.

MUI bahkan mengingatkan umat agar tidak terburu-buru membagikan informasi yang belum diketahui kebenarannya serta mempertimbangkan apakah informasi tersebut membawa manfaat atau justru mudarat.

Menjaga Lisan adalah Menjaga Persaudaraan

Pada akhirnya, menjaga lisan bukan hanya soal menghindari dosa pribadi. Menjaga lisan berarti ikut menjaga kedamaian orang lain.

Kita mungkin lupa terhadap perkataan yang pernah kita ucapkan, tetapi orang lain bisa mengingatnya bertahun-tahun. Sebuah ucapan yang dianggap sepele oleh penyampainya bisa menjadi luka bagi orang yang mendengarnya.

Baca Juga :  Pelajaran Yang Dapat Diambil Dari Kisah Perang Badar

Karena itu, mari mengganti kebiasaan membawa cerita dengan kebiasaan membawa kedamaian. Jika mendengar kabar yang dapat memecah hubungan, jangan buru-buru meneruskannya. Jika terjadi kesalahpahaman, jadilah orang yang mendamaikan, bukan memperkeruh keadaan.

Sebab seorang Muslim seharusnya menjadi jembatan persaudaraan, bukan sumber permusuhan.

Semoga Allah SWT menjaga lisan, hati, dan jari-jari kita dari perbuatan namimah, fitnah, ghibah, serta segala bentuk perkataan yang dapat merusak persaudaraan. Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu menyampaikan kebaikan dan menghentikan keburukan sebelum semakin luas.

Sumber:

  • https://mui.or.id/baca/berita/7-pedoman-islami-dalam-bermedia-sosial-yang-penting-diamalkan
  • https://islam.nu.or.id/khutbah/khutbah-jumat-celaan-syariat-terhadap-sikap-adu-domba-yzsNw

Editor: Madi