Waspadai Dehidrasi di Musim Kemarau, Ini Gejala dan Cara Mencegahnya

Ilustrasi orang meminum air putih di bawah terik matahari. Gambar: AI

Musim kemarau yang mulai melanda sejumlah wilayah di Indonesia membawa tantangan tersendiri bagi kesehatan masyarakat. Salah satu ancaman paling umum adalah dehidrasi, kondisi ketika tubuh kehilangan lebih banyak cairan dibandingkan yang masuk.

Menurut dr. Anissa Rahma, spesialis penyakit dalam, dehidrasi dapat terjadi secara perlahan dan sering tidak disadari. “Gejala awalnya bisa berupa mulut kering, sakit kepala ringan, kelelahan, hingga urin yang berwarna pekat. Bila dibiarkan, kondisi ini bisa memburuk dan menyebabkan penurunan kesadaran,” jelasnya.

Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan pekerja lapangan diimbau untuk meningkatkan konsumsi air putih dan menghindari paparan sinar matahari secara langsung dalam waktu lama. Idealnya, seseorang mengonsumsi setidaknya 8 gelas air setiap hari, lebih banyak jika berada di lingkungan panas atau melakukan aktivitas fisik berat.

Baca Juga :  Manfaat Berpuasa bagi Kesehatan Tubuh

Pakar kesehatan juga menyarankan untuk mengenakan pakaian berbahan adem, menghindari minuman berkafein berlebih, serta mengatur pola makan dengan asupan buah-buahan tinggi air seperti semangka dan jeruk.

Baca Juga :  Cegah DBD, Wabup Apri Ajak Masyarakat Terapkan Pola Hidup Sehat

Menghadapi musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga beberapa bulan ke depan, masyarakat diingatkan untuk lebih waspada terhadap gejala dehidrasi dan segera mencari pertolongan medis jika mengalami gejala berat seperti pusing hebat, jantung berdebar, atau penurunan kesadaran.

Editor: Madi