4. Bangun Kerja Sama dengan Kreator
Tidak semua bisnis membutuhkan influencer dengan jumlah pengikut sangat besar.
Kreator dengan audiens yang sesuai dengan target pasar sering kali lebih relevan. Misalnya, bisnis makanan dapat bekerja sama dengan kreator kuliner, sedangkan produk olahraga dapat dipromosikan melalui kreator yang memiliki audiens dengan minat olahraga.
Hal terpenting bukan hanya jumlah followers, tetapi kesesuaian audiens, kredibilitas, kualitas konten, dan kemampuan menghasilkan tindakan dari penonton.
5. Gunakan Affiliate Marketing
Affiliate marketing dapat menjadi strategi menarik untuk social commerce.
Dalam model ini, kreator atau mitra membantu mempromosikan produk menggunakan tautan atau mekanisme afiliasi. Bisnis kemudian memberikan komisi berdasarkan transaksi yang dihasilkan.
Strategi ini dapat membantu bisnis memperluas jangkauan pemasaran sekaligus menghubungkan biaya promosi dengan hasil penjualan.
6. Jangan Mengabaikan SEO
Social commerce dan SEO sebenarnya dapat saling melengkapi.
Bisnis dapat menggunakan kata kunci yang sering dicari konsumen dalam judul video, deskripsi, caption, halaman produk, artikel blog, dan konten edukasi.
Misalnya, jika bisnis menjual skincare, topik seperti “cara memilih sunscreen”, “sunscreen untuk kulit berminyak”, atau “perbedaan sunscreen mineral dan chemical” dapat digunakan sebagai ide konten.
Dengan begitu, bisnis tidak hanya mengejar viralitas, tetapi juga membangun aset konten yang dapat ditemukan konsumen melalui pencarian.
7. Gunakan Data untuk Mengevaluasi Strategi
Jumlah views bukan satu-satunya indikator keberhasilan.
Bisnis perlu melihat metrik yang lebih dekat dengan tujuan penjualan, seperti:









