7. Lakukan Stock Opname Secara Berkala
Catatan stok di buku atau aplikasi belum tentu selalu sama dengan kondisi barang secara fisik.
Kesalahan pencatatan, barang rusak, kehilangan, retur atau kesalahan transaksi dapat menyebabkan perbedaan antara data dan jumlah barang sebenarnya.
Karena itu, lakukan stock opname secara berkala.
Tidak harus selalu menunggu akhir tahun. Untuk produk yang sangat penting atau memiliki perputaran tinggi, pemeriksaan dapat dilakukan lebih sering.
Hasil pemeriksaan kemudian dibandingkan dengan catatan untuk mengetahui apakah terdapat selisih.
8. Evaluasi Stok Sebelum Melakukan Pembelian
Salah satu kebiasaan yang dapat membuat modal cepat tertahan adalah melakukan pembelian berdasarkan perasaan.
Sebelum memesan barang, cobalah menjawab beberapa pertanyaan:
- Berapa rata-rata barang tersebut terjual setiap minggu?
- Berapa stok yang masih tersedia?
- Berapa lama pemasok membutuhkan waktu untuk mengirim?
- Apakah ada tren kenaikan atau penurunan permintaan?
- Apakah masih ada stok lama yang belum terjual?
- Berapa banyak modal yang harus dikeluarkan?
Dengan pertanyaan sederhana tersebut, keputusan pembelian dapat menjadi lebih terukur.
9. Manfaatkan Data Penjualan untuk Menentukan Jumlah Stok
Semakin banyak data yang dimiliki, semakin mudah pemilik usaha memperkirakan kebutuhan persediaan.
Data penjualan bulanan dapat digunakan untuk melihat pola permintaan. Misalnya, produk tertentu ternyata lebih banyak terjual menjelang hari raya, musim sekolah atau periode tertentu.
Pola tersebut dapat menjadi dasar untuk menambah stok sebelum permintaan meningkat.
Namun, penambahan stok tetap harus disesuaikan dengan kemampuan modal. Tujuannya bukan sekadar mengejar penjualan, tetapi memastikan tambahan persediaan tetap memiliki peluang besar untuk berubah kembali menjadi kas.









