Bisnis  

Stok Barang Sering Menumpuk? Ini Strategi Mengelola Persediaan agar Modal Bisnis Tidak Mandek”

Pengelolaan stok barang di gudang untuk menjaga perputaran modal bisnis. Foto: Madi/ AI

4. Tentukan Batas Minimum dan Maksimum Stok

Pelaku usaha sebaiknya memiliki batas persediaan untuk produk-produk utama.

Batas minimum membantu mencegah kehabisan barang, sedangkan batas maksimum mencegah pembelian berlebihan.

Salah satu konsep yang dapat digunakan adalah reorder point (ROP) atau titik pemesanan kembali.

Secara sederhana, rumusnya:

Reorder Point = (Rata-rata penjualan harian × waktu tunggu pemasok) + safety stock

Sebagai contoh, sebuah toko menjual rata-rata 10 unit produk per hari. Pemasok membutuhkan waktu lima hari untuk mengirimkan pesanan dan toko ingin memiliki cadangan 20 unit.

Maka:

ROP = (10 × 5) + 20 = 70 unit

Artinya, ketika stok mendekati 70 unit, pemilik usaha dapat mulai melakukan pemesanan kembali.

Baca Juga :  Kunci Sukses Mengelola Bisnis: Dari Keuangan, SDM hingga Strategi Pemasaran

Konsep reorder point dan safety stock membantu bisnis menghindari dua masalah sekaligus, yaitu kehabisan stok dan pembelian terlalu dini.

5. Pisahkan Barang Fast Moving dan Slow Moving

Cara sederhana lainnya adalah mengelompokkan barang berdasarkan kecepatannya.

Fast moving merupakan barang yang cepat terjual dan perlu dipantau lebih sering.

Slow moving adalah barang yang masih terjual, tetapi pergerakannya lebih lambat.

Sementara itu, barang yang sudah lama tidak mengalami penjualan dapat masuk kategori dead stock atau stok mati.

Produk yang sudah tidak bergerak sebaiknya tidak dibiarkan terus memenuhi gudang. Pelaku usaha dapat mempertimbangkan promosi, potongan harga, bundling atau strategi lain untuk mengubah stok tersebut kembali menjadi uang tunai.

Baca Juga :  Perkuat Eksistensi di Jambi, Maxim Buka Cabang Baru di Muara Bulian

6. Gunakan Sistem FIFO untuk Barang yang Memiliki Masa Simpan

Untuk bisnis makanan, minuman, kosmetik atau produk lain yang memiliki masa kedaluwarsa, pengaturan posisi barang sangat penting.

Metode FIFO (First In, First Out) berarti barang yang lebih dahulu masuk harus diprioritaskan untuk dijual lebih dahulu.

Dengan cara tersebut, risiko barang lama tertinggal di gudang hingga melewati masa simpannya dapat dikurangi.

Penerapan FIFO juga dapat membantu bisnis menjaga kualitas produk sekaligus mengurangi potensi kerugian akibat barang rusak atau kedaluwarsa.