- Nama barang
- Jumlah stok awal
- Barang masuk
- Barang keluar
- Stok akhir
- Harga beli
- Harga jual
- Tanggal transaksi
Data tersebut akan membantu pemilik usaha mengetahui kondisi stok sebenarnya dan mengurangi keputusan pembelian berdasarkan perkiraan semata.
2. Kenali Produk yang Cepat dan Lambat Terjual
Tidak semua produk memiliki tingkat permintaan yang sama.
Ada barang yang terjual setiap hari, sementara produk lain mungkin membutuhkan waktu berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan untuk terjual.
Karena itu, lakukan evaluasi penjualan secara berkala. Produk yang cepat terjual perlu mendapat perhatian lebih agar tidak mengalami kekosongan stok.
Sementara itu, produk yang jarang terjual harus dievaluasi. Bisa jadi jumlah pembeliannya terlalu besar, harganya kurang kompetitif, atau memang permintaannya sudah menurun.
Konsep inventory turnover dapat digunakan untuk melihat seberapa cepat persediaan berputar. Semakin lambat perputarannya, semakin besar kemungkinan modal tertahan dalam stok.
3. Jangan Membeli Barang Hanya karena Harga Grosir Lebih Murah
Harga grosir yang lebih murah memang terlihat menguntungkan. Namun, diskon pembelian tidak otomatis berarti keuntungan bagi bisnis apabila barang tersebut membutuhkan waktu lama untuk terjual.
Misalnya, sebuah toko biasanya menjual 50 unit produk dalam sebulan. Kemudian pemasok menawarkan harga lebih murah jika toko membeli 200 unit sekaligus.
Jika permintaan tidak meningkat, pembelian tersebut justru dapat membuat sebagian besar modal tertahan di gudang.
Karena itu, keputusan pembelian sebaiknya mempertimbangkan data penjualan sebelumnya, kapasitas penyimpanan, kemampuan modal dan perkiraan permintaan.









