“Keberhasilan direktur harus diukur dari apakah air hidup 24 jam atau tidak. Kalau tetap seperti sekarang, berarti belum berhasil dan perlu diganti,” tambahnya.
*Tokoh Mahasiswa Muhammadiyah: Jangan Hanya Janji, Tunjukkan Aksi*
Zirul Habibi, tokoh muda dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kabupaten Bungo, lebih tajam menyikapi persoalan ini. Ia menilai bahwa masalah utama bukan sekadar teknis, melainkan lemahnya kepemimpinan dan manajemen PDAM selama ini.
“Air hidupnya tidak jelas. Tidak ada tantangan yang tidak bisa diselesaikan kalau manajemen dan pengelolaan anggaran dijalankan dengan benar,” ucapnya.
Ia menyayangkan lambannya penanganan oleh pejabat PDAM terdahulu, dan berharap Bupati baru bisa bersikap tegas dalam memilih pimpinan yang tepat untuk PDAM.
“Bupati sebelumnya tidak konkrit. Kita ingin lihat langkah nyata dari Bupati Dedy Putra. Jangan sampai masyarakat terus menjadi korban,” tambahnya.
Zirul juga menegaskan bahwa indikator keberhasilan direktur PDAM sangat sederhana: air harus tersedia 24 jam. “Kalau tidak bisa wujudkan itu, sebaiknya mundur saja sebelum rakyat bertindak. Air adalah kunci kehidupan,” tegasnya.
*Rano Saputra: Rehabilitasi Total Infrastruktur Sangat Mendesak*
Rano Saputra, mantan Ketua HMI Cabang Bungo, juga turut angkat bicara. Menurutnya, sering matinya air tanpa kejelasan waktu menunjukkan bahwa PDAM tidak menjalankan tugasnya dengan baik.
“Ini menyangkut hajat hidup orang banyak. Mesin pompa dan intake belum pernah diperbarui, padahal itulah sumber utama air yang masuk ke rumah-rumah warga,” jelas Rano.
Ia mendorong calon direktur PDAM untuk segera menyusun program peremajaan mesin, peningkatan kapasitas intake, dan optimalisasi output air.







