Opini  

Birokrasi yang Responsif Hanya Saat Dikunjungi Pejabat Pusat

Riska Wirawan, S.Sos, M.Si  Dosen Prodi Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta. Foto: Sari

Akibat dari budaya birokrasi yang reaktif tersebut, masyarakat sering merasa bahwa pelayanan publik berjalan berdasarkan momentum, bukan sistem. Jalan rusak diperbaiki karena akan dilewati pejabat, fasilitas publik dibersihkan karena akan dikunjungi menteri, dan pelayanan dipercepat karena ada inspeksi mendadak. Situasi ini memperlihatkan bahwa negara sebenarnya mampu bekerja cepat, tetapi kecepatan tersebut belum menjadi budaya pelayanan sehari-hari.

Fenomena ini juga memperlihatkan lemahnya mekanisme evaluasi pelayanan publik yang berbasis kebutuhan masyarakat. Selama birokrasi lebih takut pada kunjungan atasan dibanding keluhan warga, maka orientasi pelayanan tidak akan berubah secara substantif. Padahal keluhan masyarakat seharusnya memiliki posisi yang sama pentingnya dengan pengawasan pejabat pusat.

Di sisi lain, kunjungan pejabat pusat sebenarnya dapat menjadi instrumen pengawasan yang positif apabila digunakan untuk mengevaluasi langsung kondisi pelayanan publik. Persoalannya, birokrasi sering kali lebih fokus menampilkan “kondisi terbaik sementara” dibanding memperbaiki akar persoalan pelayanan. Akibatnya, kunjungan pejabat justru berubah menjadi panggung pencitraan administratif, bukan sarana evaluasi yang objektif.

Baca Juga :  Menang Tipis dari Batanghari Tim Bungo Panen Saweran 
Baca Juga :  Bupati Bungo Kembali Lantik Pejabat Eselon II

Dalam konteks reformasi birokrasi, kondisi ini menunjukkan bahwa perubahan sistem belum sepenuhnya diikuti perubahan budaya kerja. Pemerintah memang telah mendorong digitalisasi pelayanan, reformasi administrasi, dan penguatan akuntabilitas birokrasi. Namun selama mentalitas pelayanan masih berbasis pengawasan sesaat dan formalitas atasan, maka kualitas birokrasi akan sulit berkembang secara konsisten.