SIDAKPOST.ID, BUNGO – Di wilayah Dharmasraya, tepatnya di sebuah kampung tua bernama Rantau Nan Tuo, mengalir sungai besar yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat: Sungai Batanghari. Sungai itu bukan sekadar sumber air, tapi juga dipercaya sebagai tempat bersemayam makhluk penjaga.
Konon, pada zaman dahulu, hiduplah seorang pemuda bernama Sutan Rajo Ameh. Ia dikenal pemberani, namun keras kepala. Sejak kecil, ia sering mendengar cerita dari orang tua tentang “Ikan Gadang” seekor ikan raksasa yang menjaga keseimbangan sungai.
“Jangan pernah mengganggu yang tak terlihat,” pesan ninik mamak.
Namun Sutan hanya tertawa. Baginya, semua itu hanyalah cerita orang tua.
Suatu musim kemarau panjang, air sungai surut drastis. Ikan-ikan kecil mudah ditangkap, dan warga hidup berkecukupan. Tapi Sutan melihat ini sebagai kesempatan lebih besar.
“Aku akan menangkap Ikan Gadang itu. Kita akan kaya!” katanya dengan penuh ambisi.
Meski dilarang, ia tetap pergi ke bagian sungai yang paling dalam tempat yang disebut “Lubuk Larangan”, wilayah yang sejak dulu tak boleh disentuh.
Malam itu, ia memasang jaring besar. Air tiba-tiba menjadi tenang… terlalu tenang. Tak lama kemudian, jaringnya bergerak hebat. Sutan bersorak, mengira berhasil.
Namun yang muncul bukan ikan biasa.
Dari dalam air, terlihat sisik besar berkilau seperti emas. Mata makhluk itu menyala dalam gelap. Sungai bergetar, dan suara dalam seperti datang dari dasar bumi:
“Siapa yang berani mengusik penjaga Batanghari?”
Sutan gemetar, tapi kesombongannya lebih besar dari rasa takut.
“Aku yang akan menaklukkanmu!” teriaknya.
Sekejap, air bergulung tinggi. Perahu Sutan terbalik. Ia terseret arus menuju pusaran di tengah lubuk. Dalam kepanikan, ia berteriak minta tolong, tapi tak ada yang bisa menyelamatkannya.
Keesokan harinya, warga hanya menemukan jaringnya yang robek di tepi sungai. Sutan menghilang tanpa jejak.
Sejak saat itu, air di lubuk itu tak pernah surut lagi, bahkan saat kemarau. Warga percaya Sutan telah menjadi bagian dari sungai—dijaga selamanya oleh Ikan Gadang sebagai peringatan bagi manusia.
Hingga kini, masyarakat sekitar masih menjaga “Lubuk Larangan”. Mereka tidak berani menangkap ikan di sana, kecuali pada waktu tertentu dengan aturan adat.
Cerita ini diwariskan turun-temurun sebagai pengingat:
Alam bukan untuk ditaklukkan, tapi untuk dihormati.
Editor: Madi





