Kesalahan analisis terjadi ketika penurunan 2024 dibaca sebagai bukti kegagalan total birokrasi. Padahal tren menunjukkan sebaliknya. Jambi terbukti mampu tumbuh dan memperbaiki diri secara signifikan dalam tiga tahun terakhir.
Selain itu, para analis kebijakan antikorupsi internasional menyebutkan bahwa indikator berbasis persepsi seperti SPI memang cenderung mengalami fluktuasi setelah fase peningkatan tinggi.
Hal ini normal dalam siklus reformasi birokrasi. Ketika ekspektasi pegawai meningkat setelah masa perbaikan, sedikit gangguan pada tahun berikutnya dapat memicu penurunan tajam dalam persepsi, meski faktualnya tidak terjadi kerusakan serius pada sistem.
Basis Struktural Penurunan: Temuan Audit BPK Harus Dibaca Bersama SPI
Temuan BPK dalam Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Daerah (IHPD) Jambi 2024 mengungkap 115 masalah kelemahan SPI dan 162 masalah ketidakpatuhan, dengan nilai temuan sekitar Rp 50,13 miliar (BPK, IHPD Jambi 2024).
Temuan ini meliputi pengelolaan aset, efektivitas anggaran, serta konsistensi prosedur pengawasan. Kelemahan struktural ini menjelaskan mengapa persepsi integritas internal menurun.
Ketika pengendalian aset longgar, proses anggaran tidak efisien, atau pengawasan internal tidak konsisten, persepsi ASN terhadap integritas pemerintah akan menurun tanpa harus terjadi peningkatan kasus korupsi.
Artinya, SPI 2024 tidak sedang menggambarkan maraknya tindak korupsi, melainkan melemahnya keyakinan pegawai terhadap kapasitas lembaga untuk mencegah korupsi.
Jika SPI dan hasil audit BPK dibaca bersama, publik mendapatkan gambaran yang lebih utuh, ada tantangan struktural yang perlu diperbaiki, tetapi penurunan ini dapat dijelaskan secara teknis dan bukan sekadar drama politik.








