Pilih Circle Positif, Prof Niam: Lingkungan Membentuk Karakter dan Perilaku

Wakil Ketua Komisi Organisasi Muktamar ke-35 NU, Prof KH Asrorun Ni'am Sholeh, seusai memimpin sidang komisi di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberak, Jombang, Jawa Timur. Foto: MUI

SIDAKPOST.ID, JAKARTA – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Fatwa, Prof KH Asrorun Niam Sholeh, mengajak umat Islam lebih selektif dan bijak dalam memilih lingkungan pergaulan atau circle dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Prof Niam, lingkungan pertemanan dan tempat seseorang beraktivitas memiliki pengaruh nyata terhadap pola pikir, perilaku hingga pembentukan karakter seseorang.

Pesan tersebut disampaikan Prof Niam saat mengisi pengajian rutin mingguan yang membedah Kitab Nashaihul Ibad karya Syekh Nawawi Al-Bantani. Kegiatan yang digelar Pondok Pesantren An-Nahdlah itu berlangsung secara hibrida dan dihadiri para santri serta diikuti ribuan jamaah dari berbagai daerah melalui Zoom.

Dikutip dari laman resmi MUI, Selasa (6/10/2026), Prof Niam menjelaskan bahwa setiap manusia pada dasarnya terlahir dalam kondisi fitrah dan memiliki kesiapan alami untuk menerima kebaikan.

Namun, lingkungan pergaulan di sekitar seseorang dapat menjadi faktor yang menentukan apakah fitrah tersebut tetap terjaga dan berkembang atau justru terkikis oleh pengaruh lingkungan yang tidak kondusif.

Baca Juga :  Sebaik-Baik Manusia Menurut Islam: Siapa Mereka?

Pergaulan sehari-hari, kata dia, dapat terbentuk dari berbagai lingkungan, mulai dari dunia pendidikan, tempat berkumpul anak muda, dunia kerja hingga lingkungan bertetangga.

Lingkungan yang permisif terhadap pelanggaran syariat, seperti meremehkan waktu salat atau gemar bergosip, dinilai dapat membuat seseorang secara perlahan terbiasa dan memaklumi perbuatan buruk.

Sebaliknya, berada dalam lingkungan yang positif dapat mendorong seseorang tumbuh menjadi pribadi yang taat, produktif dan bermanfaat bagi sesama.

Karena itu, generasi muda diingatkan agar tidak menghabiskan waktu dalam pertemanan yang hanya diisi kegiatan sia-sia. Mereka didorong untuk mencari komunitas yang mampu memberikan inspirasi sekaligus memotivasi proses belajar.

Prof Niam juga mengingatkan pentingnya menjaga diri dari pergaulan digital yang toksik. Kelompok yang gemar menyebarkan fitnah, melakukan perundungan atau tindakan manipulatif di media sosial dinilai dapat memberikan pengaruh buruk terhadap kehidupan seseorang.

Baca Juga :  MUI Tebo : Ibadah di Bulan Ramadhan Ikuti Prokes

Selain lingkungan pertemanan, pemilihan lingkungan tempat tinggal juga dinilai penting. Prof Niam mengutip kaidah klasik al-jaru qablad dar, yang bermakna memilih tetangga sebelum memilih rumah.

Menurutnya, kualitas lingkungan bertetangga turut berpengaruh terhadap kenyamanan dan keselamatan agama dalam kehidupan keluarga. Jika seseorang menyadari berada dalam lingkungan yang membawa pengaruh negatif dan kemaksiatan, berpindah ke lingkungan yang lebih baik menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga kualitas diri dan keimanan.

Di akhir tausiyahnya, Prof Niam kembali menegaskan bahwa pendidikan dan lingkungan pergaulan memiliki peran besar dalam membentuk karakter seseorang.

“Anak itu pada hakikatnya terlahir dalam kondisi fitrah. Yang membentuk dan mencetak anak, apakah menjadi baik atau belajar di lingkungan para pencoleng kemudian menjadi pencoleng, itu tergantung pendidikan orang tua dan circle-nya. Circle itulah yang akan mewarnai dia,” kata Prof Niam. (sum)