Ketika Nabi Muhammad SAW menyampaikan wahyu, mereka tidak berusaha memahami pesan yang disampaikan. Sebaliknya, mereka justru menghindar.
Sikap inilah yang digambarkan melalui keledai liar yang melarikan diri saat menghadapi ancaman singa.
Mengapa Orang yang Menolak Kebenaran Mendapat Perumpamaan Tersebut?
Imam Khazin dalam Tafsirul Khazin menjelaskan bahwa perumpamaan tersebut menunjukkan kemiripan perilaku antara keledai liar yang ketakutan dan kaum musyrik yang menjauh ketika mendengar bacaan Al-Qur’an.
Keledai liar secara naluriah berlari ketika melihat singa. Sementara itu, kaum musyrik digambarkan menghindari peringatan yang sebenarnya mengandung petunjuk bagi kehidupan mereka.
Perumpamaan tersebut bukan sekadar menggambarkan tindakan menjauh, tetapi juga menjadi kritik terhadap sikap yang menolak kebenaran tanpa berusaha memahami terlebih dahulu.
Penjelasan senada disampaikan Syekh Wahbah Az-Zuhaili dalam kitab At-Tafsirul Munir.
Dengan merujuk penjelasan Ibnu Abbas, ia menerangkan bahwa gambaran tersebut merupakan celaan terhadap kaum musyrik yang tidak memiliki kesiapan untuk mempertimbangkan kebenaran.
Ayat-ayat Al-Qur’an yang seharusnya menjadi sumber petunjuk dan ketenangan justru mereka jauhi karena keengganan untuk menerima ajaran yang disampaikan Rasulullah SAW.
Pelajaran Penting dalam Kehidupan Sehari-hari
Pesan Surat Al-Muddatstsir ayat 49–51 dapat menjadi bahan introspeksi bagi umat Islam dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Meskipun konteks ayat tersebut berkaitan dengan penolakan kaum musyrik terhadap wahyu, terdapat pelajaran moral mengenai pentingnya keterbukaan hati dalam menerima kebenaran.









