Karena itu, Pemkab Agam terus membangun sinergi dengan pemerintah pusat dan daerah, organisasi pemerintah maupun nonpemerintah, individu, komunitas, serta dukungan dari ranah dan rantau.
Berkat kolaborasi tersebut, berbagai upaya pemulihan dan rekonstruksi mulai dilaksanakan secara bertahap di berbagai sektor, termasuk pendidikan.
Untuk mempercepat pemulihan sarana dan prasarana pendidikan terdampak bencana, penanganan sekolah di Kabupaten Agam dilakukan melalui sejumlah program yang didukung pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.
Melalui program revitalisasi pascabencana satuan pendidikan yang dialokasikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), sebanyak 37 sekolah mendapatkan penanganan. Jumlah tersebut terdiri dari 15 TK/PAUD, 16 SD dan enam SMP.
Selain itu, melalui alokasi Tambahan Keuangan Daerah (TKD) 2026 yang dikhususkan untuk penanganan bencana, sebanyak sembilan sekolah mendapatkan penanganan melalui kegiatan rekonstruksi dan rehabilitasi. Rinciannya, tiga TK/PAUD, tiga SD dan tiga SMP.
Kedua program tersebut menjadi langkah strategis dalam mempercepat pemulihan sarana dan prasarana pendidikan, sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung di lingkungan yang lebih layak, aman dan nyaman.
Sementara 21 unit sisanya ada tiga sekolah yang direlokasi dan sudah diajukan kepada Kemendikdasmen, kemudian ada pemulihan dilakukan dengan rehab rekon melalui BNPB dan revitalisasi regional.
“SMPN 2 Tanjung Raya menjadi salah satu bukti nyata komitmen, kerja keras dan sinergi berbagai pihak dalam mendukung pemulihan sektor pendidikan di Kabupaten Agam,” terang Benni Warlis.









