Kemaksiatan Bisa Menutupi Hati, Ini Pesan Prof KH Asrorun Ni’am

Ketua MUI Bidang Fatwa, Prof KH Asrorun Ni'am Sholeh. Foto: Dok. mui.or.id

Ilmu Harus Dikawal Adab

Dalam tausiyahnya, Prof Ni’am juga mengutip bait hikmah ulama besar Tabi’in, Imam Al-Hasan Al-Bashri:

“Man la adaba lahu, la ‘ilma lahu.”

Artinya, barang siapa tidak memiliki adab, maka tidak ada ilmu baginya yang diakui.

Ia menyoroti kondisi di era digital ketika banyak orang mengejar kecanggihan ilmu pengetahuan dan keterampilan teknis untuk kepentingan duniawi maupun materi, namun mengabaikan adab dan moralitas.

Prof Ni’am memberikan contoh seseorang yang memiliki keahlian tinggi di bidang teknologi informasi. Tanpa dibimbing adab dan kebersihan hati, kemampuan tersebut dapat disalahgunakan untuk tindakan yang merugikan publik, seperti memfasilitasi platform judi online atau melakukan peretasan terhadap sistem keuangan.

Baca Juga :  Kesederhanaan dan Ketakwaan Jadi Kunci Lahirkan Generasi Hebat, Kata Kiai Cholil Nafis

“Kecanggihan ilmu pengetahuan minus adab, la ‘ilma lahu, dianggap tidak ada ilmunya. Sekalipun dibayar tinggi, sudah dijamin orang tersebut tidak akan merasa tenang dalam hidupnya karena akan selalu membayangi ketakutan dan penyesalan,” ujarnya.

Adab Ditanamkan Sejak Dini

Sebagai bagian dari upaya menjaga hati dan membentuk karakter, Prof Ni’am mengingatkan kembali konsep al-adabu qablal ‘ilmi, yakni adab terlebih dahulu sebelum ilmu.

Menurutnya, tradisi pendidikan para kiai di pesantren dan ajaran Rasulullah SAW menempatkan pembinaan adab sebagai bagian penting dalam proses pendidikan.

Baca Juga :  Mengapa Tazkiyatun Nafs Penting dalam Kehidupan Muslim Sehari-hari?

Orang tua, kata dia, memiliki kewajiban dasar untuk memperbaiki nama dan membina adab anak-anak sebelum mengajarkan Alquran serta ilmu pengetahuan lainnya.

Pembiasaan sederhana seperti berdoa sebelum beraktivitas, menghormati orang tua dan guru, serta menjaga tutur kata perlu ditanamkan sejak dini.

Adab juga tercermin dari kemampuan menjaga lisan, termasuk ketika menggunakan media sosial. Di tengah kemudahan berkomunikasi di era digital, ghibah dan ujaran kebencian juga semakin mudah terjadi.

“Orang yang beriman hendaknya memilih untuk berkata yang baik atau diam,” kata Prof Ni’am. (sum)