Gaya hidup hedonisme semakin marak di kalangan anak muda zaman sekarang. Mereka cenderung mengutamakan kesenangan sesaat tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap masa depan. Aktivitas seperti nongkrong di kafe mahal, belanja berlebihan, hingga pesta tanpa batas menjadi kebiasaan yang dianggap wajar.
Salah satu faktor pendorong utama adalah media sosial. Banyak anak muda ingin terlihat “kaya” atau “keren” di hadapan followers-nya, padahal kenyataannya belum tentu sesuai dengan kondisi keuangan mereka. Inilah yang memicu perilaku konsumtif dan boros.
Gaya hidup hedonistik ini berdampak buruk, terutama dalam jangka panjang. Banyak dari mereka yang akhirnya terjebak dalam utang, kehilangan arah tujuan hidup, bahkan mengorbankan pendidikan dan kesehatan mental. Mereka lupa bahwa masa muda adalah waktu untuk belajar, menabung, dan membangun masa depan.
Lebih mengkhawatirkan lagi, kebiasaan ini bisa membentuk karakter yang rapuh. Anak muda menjadi mudah menyerah saat menghadapi kesulitan karena terbiasa hidup dalam kenyamanan. Mereka tidak terbiasa bekerja keras dan sulit menerima kenyataan hidup yang tidak selalu menyenangkan.
Jika tidak ditangani, hedonisme bisa menjadi budaya turun-temurun yang memperburuk kualitas generasi. Oleh karena itu, peran keluarga, lingkungan, dan institusi pendidikan sangat penting dalam membentuk pola pikir yang sehat dan tangguh.
Solusinya adalah dengan membangun kesadaran akan pentingnya gaya hidup sederhana dan fokus pada tujuan jangka panjang. Edukasi finansial sejak dini sangat penting untuk membantu anak muda membuat keputusan yang bijak dalam hal pengeluaran dan investasi waktu serta uang.
Editor: Madi








