Drama Tukang Bakso dan Emak-Emak

Gambar Ilustrasi Bakso. (freepick)

Ada yang pernah memperhatikan betapa uniknya interaksi antara tukang bakso dan emak-emak? Ini adalah drama tingkat tinggi yang penuh plot twist dan emosional. Contohnya, emak-emak biasanya mulai dengan pertanyaan maut, “Baksonya asli daging sapi atau campur?” Tukang bakso, sambil tersenyum penuh percaya diri, menjawab, “Asli, Bu. Dijamin sapi 100%.” Tapi jangan senang dulu, karena emak-emak akan membalas dengan, “Bohong, ya? Saya bisa bedain, lho!”

Setelah melalui interogasi intens, akhirnya emak-emak memesan semangkuk bakso. Tapi drama belum selesai. Ketika bakso sudah dihidangkan, emak-emak akan berkata, “Kuahnya kurang panas, bisa direbus lagi nggak?” Tukang bakso dengan sabar mengambil mangkuknya kembali. Setelah itu, giliran komplain tentang jumlah bakso. “Lho, kok baksonya cuma empat? Biasanya lima, lho. Ini harganya naik, ya?” Seperti biasa, tukang bakso hanya bisa tersenyum dan berkata, “Iya, Bu. Inflasi.”

Namun, jangan salah sangka. Drama ini sering kali diakhiri dengan kejutan manis. Setelah selesai makan, emak-emak biasanya mengakhiri dengan pujian tulus. “Ternyata enak juga, ya. Besok saya ajak tetangga beli di sini.” Dan begitulah, tukang bakso menjadi pemenang sejati dalam drama sehari-hari.

Baca Juga :  Perjuangan Heroik Saat Beli Gorengan

Tapi jangan lupakan “plot twist” lainnya, yaitu saat emak-emak menawar harga bakso yang sudah jelas tertera di spanduk. “Masa nggak bisa kurang, Mas? Kan saya langganan.” Tukang bakso hanya bisa menghela napas dan menyerah, “Ya sudah, Bu, tambah bakso kecil satu lagi, ya.” Kemenangan kecil untuk emak-emak, tapi kemenangan besar untuk perut mereka.

Baca Juga :  Ini Jadwal Nonton Bioskop Mini di Kota Muara Bungo

Dan ketika tukang bakso akhirnya berkemas di malam hari, dia tahu bahwa drama itu adalah bagian dari pekerjaan yang paling menghibur. Karena tanpa emak-emak, hidup seorang tukang bakso mungkin akan terasa lebih sepi dan kurang penuh warna. Jadi, mari kita angkat mangkuk bakso kita untuk menghormati kedua pahlawan kuliner ini.

Editor: Madi