3. Buat Anggaran Bulanan
Setelah mengetahui pola pengeluaran, buatlah anggaran untuk setiap bulan.
Tentukan batas untuk kebutuhan pokok, tabungan, cicilan, hiburan, investasi, dan kebutuhan lainnya. Besarnya alokasi tentu dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing karena kebutuhan setiap orang berbeda.
Yang terpenting adalah membuat batas pengeluaran dan berusaha menjalankannya secara konsisten.
OJK dalam materi perencanaan keuangannya juga memberikan contoh pembagian penghasilan ke dalam sejumlah pos, termasuk biaya rumah tangga, pendidikan, cicilan, tabungan dan dana darurat, serta investasi masa depan.
4. Sisihkan Uang untuk Dana Darurat
Kehidupan tidak selalu berjalan sesuai rencana. Kendaraan bisa rusak, kebutuhan keluarga dapat muncul tiba-tiba, atau seseorang bisa menghadapi kondisi yang membutuhkan biaya tambahan.
Karena itu, dana darurat penting untuk dipersiapkan.
Materi literasi keuangan OJK menyebut dana darurat dapat disiapkan sekitar tiga sampai enam kali pengeluaran bulanan.
Dana ini sebaiknya dipisahkan dari uang yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari sehingga tidak mudah terpakai untuk keperluan konsumtif.
5. Jangan Biarkan Cicilan Menguasai Penghasilan
Utang atau cicilan tidak selalu buruk. Namun, jumlah cicilan perlu disesuaikan dengan kemampuan membayar.
Terlalu banyak cicilan dapat membuat ruang keuangan menjadi sempit. Ketika sebagian besar penghasilan digunakan untuk membayar utang, seseorang akan lebih sulit menabung maupun mempersiapkan kebutuhan masa depan.
Dalam buku saku pengelolaan keuangan, OJK memasukkan kemampuan menjaga cicilan utang di bawah batas maksimal 30 persen dari penghasilan sebagai salah satu indikator kesehatan keuangan pribadi.
Karena itu, sebelum mengambil cicilan baru, pertimbangkan terlebih dahulu kemampuan membayar hingga lunas.









