SIDAKPOST.ID, TEBO – Kopi tak lagi sekadar minuman. Komoditas ini mulai ditempatkan sebagai bagian dari strategi ekonomi, terutama karena melibatkan petani, pelaku usaha, dan rantai produksi yang panjang.
Pandangan itu mengemuka dalam Musyawarah Nasional Dewan Kopi Indonesia 2026 di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta. Forum tersebut membahas arah pengembangan kopi nasional, termasuk posisi komoditas kopi dalam pembangunan ekonomi Indonesia.
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas dalam forum itu menekankan pentingnya melihat kopi bukan semata sebagai komoditas pertanian, melainkan bagian dari ekosistem ekonomi yang melibatkan masyarakat dari hulu hingga hilir.
Bagi Kabupaten Tebo, peluang itu antara lain datang dari kopi robusta yang tumbuh di kawasan penyangga Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT). Kopi tersebut dikenal masyarakat dengan identitas lokal Kopi Bukit 30 atau Kopi Sepayung Robusta.
Penggiat kopi Bukit 30 sekaligus pemilik Coffee Roastery Sepayung, Sepriadi alias
Adi Khulov, mengatakan kopi dari kawasan tersebut memiliki karakter yang dipengaruhi kondisi geografis dan lingkungan tempat tanaman tumbuh.
“Kopi ini memiliki keunikan karena ditanam di kawasan penyangga Taman Nasional Bukit Tigapuluh. Kondisi geografis, ketinggian, serta lingkungan hutan tropis di sekitarnya menjadi bagian dari karakter kopi yang dihasilkan petani,” kata Sepriadi, Jumat (2/10/2026).
Menurut dia, pengembangan kopi Bukit 30 tidak hanya berkaitan dengan peningkatan nilai ekonomi petani. Budidaya kopi juga dapat berjalan beriringan dengan upaya pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan konservasi.









