Sepriadi mengatakan pengembangan kopi membutuhkan konsistensi dari petani, mulai dari pemilihan benih, proses budidaya hingga penanganan hasil panen.
Baginya, kualitas kopi tidak lahir secara instan, melainkan dari ketekunan petani menjaga setiap tahap produksi.
“Merawat tradisi, menanam dengan kualitas, dan menjaga ketelitian dalam setiap proses. Dari tanah yang baik diharapkan lahir cita rasa yang baik. Setiap benih adalah cerita rasa,” ujarnya.
Ia berharap Kopi Bukit 30 semakin dikenal sebagai produk lokal Tebo yang memiliki nilai ekonomi sekaligus identitas daerah.
“Bagi masyarakat ingin mendapatkan Kopi Bukit 30 atau produk Coffee Roastery Sepayung, dapat menghubungi Adi Khulov di Wirotho Agung, Rimbo Bujang, Kabupaten Tebo,” cetusnya. (asa)









