SIDAKPOST.ID, BUNGO – Iran masih menunggu tanggapan resmi Amerika Serikat setelah Presiden Donald Trump menolak proposal Tehran untuk membuka kembali jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari.
Dikutip dari bbc.com, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan Tehran telah mengetahui penolakan Trump. Namun, Iran memilih menunggu jawaban resmi yang disampaikan melalui para mediator sebelum menentukan langkah berikutnya.
Sebelumnya, Trump menyatakan proposal Iran tidak dapat diterima. Menurut Trump, Tehran menginginkan kesepakatan untuk segera membuka Selat Hormuz karena berada dalam tekanan berat.
Sementara itu, Araghchi mengatakan peluang tercapainya kesepakatan masih terbuka apabila persyaratan yang diajukan Iran dapat dipenuhi. Pernyataan tersebut disampaikan Araghchi kepada wartawan di sela-sela Sidang Umum PBB di New York.
Iran menyebut persyaratan untuk membuka kembali Selat Hormuz mengacu pada kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) yang sebelumnya ditandatangani Amerika Serikat dan Iran pada Juni.
Dalam pembicaraan yang berlangsung di sela-sela Sidang Umum PBB pekan ini, Tehran juga mengangkat isu pembukaan kembali jalur pelayaran tersebut serta penghentian permusuhan antara kedua pihak.
Selat Hormuz menjadi jalur strategis bagi perdagangan energi dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia biasanya melewati kawasan tersebut. Sejak pecahnya perang pada Februari, aktivitas pelayaran komersial di jalur itu dilaporkan mengalami gangguan serius.
Trump pada Sabtu kembali menegaskan penolakannya terhadap proposal Iran. Ia juga mengklaim Amerika Serikat telah memiliki kendali penuh atas selat tersebut dan masih terdapat minyak dalam jumlah besar yang melintas.
Di tengah kebuntuan tersebut, Oman terus mendorong kedua pihak mempertahankan jalur diplomasi. Oman selama ini berperan sebagai mediator dalam komunikasi antara Washington dan Tehran.
Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr bin Hamad bin Hamood Albusaidi dalam Sidang Umum PBB menyerukan seluruh pihak bekerja sama untuk menjaga keselamatan pelayaran di jalur strategis tersebut.
Tekanan terhadap Iran juga datang dari sisi ekonomi. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut sejumlah negara telah mengambil langkah yang membatasi hubungan penerbangan dan transaksi perbankan dengan Iran. Pemerintah AS sendiri menggunakan sanksi ekonomi sebagai bagian dari tekanan terhadap Tehran.
Namun, efektivitas tekanan ekonomi tersebut masih menjadi perdebatan. Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah hubungan dagang Iran dengan sejumlah negara, termasuk China yang selama ini menjadi pembeli utama minyak Iran.
Di tengah situasi tersebut, Tehran belum menyatakan akan menghentikan jalur komunikasi. Iran masih menunggu jawaban resmi Washington melalui mediator sebelum mengambil keputusan mengenai proposal pembukaan kembali Selat Hormuz.
Araghchi mengatakan Trump sebelumnya telah mengeluarkan sejumlah pernyataan yang menurutnya tidak selalu konsisten. “We are waiting for the mediators to convey the definitive views to us, and we will make a decision based on them,” kata Araghchi. (sum)









