Pisahkan Biaya Tetap dan Biaya Berubah
Agar perhitungan lebih teratur, biaya usaha dapat dikelompokkan menjadi biaya tetap dan biaya yang berubah mengikuti aktivitas penjualan.
Biaya tetap misalnya sewa tempat atau gaji tertentu yang jumlahnya relatif tidak berubah setiap bulan. Sementara biaya berubah dapat berupa bahan baku, kemasan, ongkos produksi dan biaya pengiriman yang meningkat seiring bertambahnya transaksi.
Pemisahan ini membantu pelaku usaha mengetahui berapa biaya yang harus disiapkan setiap bulan dan seberapa besar penjualan yang dibutuhkan untuk menutup pengeluaran.
Jangan Mencampur Uang Usaha dan Uang Pribadi
Salah satu kebiasaan yang dapat membuat pemilik usaha kesulitan menghitung keuntungan adalah mencampurkan uang bisnis dengan kebutuhan pribadi.
Misalnya, seluruh uang hasil penjualan disimpan dalam satu rekening yang juga digunakan untuk membayar kebutuhan rumah tangga. Kondisi tersebut membuat pemilik usaha sulit mengetahui berapa sebenarnya uang yang dihasilkan bisnis.
Direktorat Jenderal Pajak juga mengingatkan pentingnya memisahkan uang pribadi dan uang usaha serta melakukan pencatatan transaksi secara teratur. Catatan keuangan dapat membantu pemilik usaha mengetahui penjualan, biaya, kebutuhan modal dan kondisi keuntungan.
Catat Transaksi Setiap Hari
Pencatatan keuangan tidak harus menggunakan aplikasi yang rumit. Pelaku usaha dapat memulainya dengan buku kas, spreadsheet atau aplikasi pencatatan keuangan sederhana.
Setiap transaksi sebaiknya dicatat, mulai dari uang masuk, pembelian barang, biaya operasional hingga pengeluaran lainnya.
Dengan pencatatan rutin, pemilik usaha dapat melakukan evaluasi pada akhir minggu atau bulan. Dari sana dapat terlihat apakah penjualan meningkat, biaya terlalu besar atau margin keuntungan justru semakin menipis.









