SIDAKPOST.ID, BUNGO – Komitmen pengusaha lokal Maidani, SE, terhadap penguatan kelembagaan keagamaan di Kabupaten Bungo akhirnya tuntas. Ia resmi menyelesaikan proses hibah sebidang tanah seluas kurang lebih 1.000 meter persegi kepada Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Bungo.
Tanah tersebut berlokasi di kawasan belakang PDAM Muara Bungo dan diperuntukkan bagi pembangunan sekretariat PCNU Bungo beserta badan otonom (Banom) dan Jam’iyyah NU setempat.
Sekretaris PCNU Bungo, Agus Salim, mengungkapkan rasa syukur atas terealisasinya hibah tersebut. Ia menyebut proses penghibahan telah berlangsung cukup panjang hingga akhirnya dituntaskan melalui penandatanganan akhir pembuatan sertifikat atas nama lembaga, bukan perorangan.
“Kami sangat bersyukur. Dindo Maidani dengan ikhlas menghibahkan tanahnya untuk pembangunan kantor PCNU Kabupaten Bungo,” ujar Agus Salim saat dikonfirmasi media ini, Selasa (27/1/2026).
Menurutnya, hibah ini bukan sekadar pemberian aset fisik, tetapi juga bentuk kepercayaan dan harapan besar bagi pengembangan kegiatan keagamaan dan sosial di Kabupaten Bungo.
“Ini contoh teladan bagaimana seorang pengusaha mengambil peran nyata dalam membangun umat dan daerah. Prosesnya panjang, dan hari ini kita saksikan bersama penyelesaian akhirnya secara sah dan bermartabat,” tambahnya.
Ketua Tanfidziah PCNU Bungo, Syakroni, S.Ag., M.Sy, turut membenarkan peristiwa tersebut. Ia menyebut Maidani sebagai sosok pengusaha dermawan yang dikenal rendah hati serta konsisten dalam komitmennya.
“Hibah tanah ini akan dimanfaatkan untuk kepentingan keagamaan dan sosial. Manfaatnya diharapkan bisa dirasakan lintas generasi, khususnya untuk sekretariat PCNU, Banom-banom NU, dan Jam’iyyah di Kabupaten Bungo,” jelas Syakroni saat dihubungi.
Ia menambahkan, rencana peletakan batu pertama pembangunan sekretariat PCNU Bungo akan dilaksanakan dalam waktu dekat.
“Insyaallah dalam waktu dekat kami akan melakukan peletakan batu pertama. Semoga seluruh proses berjalan lancar dan cepat selesai,” pungkasnya.
Di tengah dinamika sosial dan politik yang kerap memunculkan berbagai prasangka, peristiwa ini menjadi penegasan bahwa masih ada insan yang menanam kebaikan jauh sebelum sorotan datang. Sebuah warisan nilai, bukan sekadar sebidang tanah. (Sri)







