Fenomena Flexing yang Meningkat
Di era digital, istilah “flexing” atau pamer kekayaan menjadi sesuatu yang akrab. Lewat media sosial, seseorang bisa menunjukkan isi rumah, kendaraan, saldo rekening, bahkan barang-barang branded yang dimiliki. Tujuannya bukan lagi sekadar berbagi, tetapi membentuk citra kaya, sukses, dan bahagia.
Sayangnya, gaya hidup seperti ini tidak hanya menciptakan persepsi palsu, tapi juga bisa sangat menyakitkan bagi orang lain yang melihatnya. Bagi sebagian orang, melihat kemewahan berlebihan di layar ponsel bisa menimbulkan tekanan sosial, rasa rendah diri, dan bahkan stres berkepanjangan.
Dampak Flexing Terhadap Kesehatan Mental Orang Lain
Pamer kekayaan secara terus-menerus bisa menimbulkan fenomena yang disebut “toxic comparison” atau perbandingan yang merusak. Saat seseorang melihat konten yang menampilkan kekayaan, mereka cenderung membandingkannya dengan kehidupannya sendiri. Jika merasa jauh tertinggal, timbul perasaan iri, malu, tidak berharga, bahkan depresi.
Fenomena ini paling rentan terjadi pada anak muda. Mereka sedang dalam tahap pencarian jati diri, dan flexing yang mereka lihat bisa membentuk mindset bahwa nilai diri diukur dari barang dan tampilan luar. Ini berbahaya karena bisa menghilangkan rasa syukur dan membentuk perilaku konsumtif demi pencitraan.
Pamer Kekayaan dan Hilangnya Empati Sosial
Gaya hidup pamer juga mengikis empati. Orang menjadi terbiasa menunjukkan apa yang mereka punya tanpa mempertimbangkan bagaimana perasaan orang lain. Padahal, tidak semua orang memiliki kehidupan yang sama. Ada yang sedang berjuang membayar utang, menyambung hidup, atau bertahan di tengah krisis ekonomi.
Saat seseorang memamerkan liburan mewah, hadiah fantastis, atau gaya hidup glamor, bisa jadi ia tidak sadar telah memperparah rasa minder orang lain yang sedang berada dalam kondisi sulit. Lebih buruk lagi, pamer bisa memicu perpecahan sosial, saling sindir, bahkan permusuhan karena rasa iri dan tidak nyaman.







