7. Lupa Berbagi dan Membantu Sesama
Rezeki yang dimiliki bukan hanya untuk dinikmati sendiri.
Al-Qur’an memerintahkan agar sebagian hak diberikan kepada kerabat, orang miskin dan musafir, sekaligus melarang pemborosan.
Berbagi tidak harus menunggu menjadi kaya. Sedekah, membantu keluarga, memberi makan orang yang membutuhkan atau membantu seseorang yang sedang kesulitan dapat dilakukan sesuai kemampuan.
Yang terpenting adalah keikhlasan dan tidak menjadikan pemberian sebagai alasan untuk menyombongkan diri.
Rezeki Bukan Sekadar Banyak, tetapi Juga Berkah
Pada akhirnya, ukuran rezeki dalam kehidupan seorang Muslim bukan semata-mata jumlah uang yang dimiliki.
Ada orang yang memiliki penghasilan sederhana tetapi hidupnya terasa cukup. Sebaliknya, ada pula yang berpenghasilan besar namun selalu merasa kekurangan.
Karena itu, ketika merasa rezeki sedang sempit, jangan hanya bertanya, “Mengapa penghasilan saya belum bertambah?”
Cobalah bertanya kepada diri sendiri: Apakah cara saya mencari uang sudah benar? Apakah saya sudah mengelola harta dengan baik? Apakah saya masih bersyukur? Apakah saya menjaga hak orang lain?
Introspeksi tersebut sebaiknya berjalan bersama ikhtiar. Perbaiki cara bekerja, tingkatkan keterampilan, kelola keuangan dengan bijak, jauhi penghasilan yang haram, dan tetap berdoa serta bertawakal kepada Allah.
Sebab, rezeki bukan hanya tentang banyaknya harta, tetapi juga tentang keberkahan, kecukupan dan ketenangan dalam menjalaninya.
Sumber:
- https://pusaka-v3.kemenag.go.id/quran/al-baqarah
- https://islam.nu.or.id/tafsir/tafsir-surat-at-taubah-ayat-105-perintah-untuk-bekerja-keras-dalam-islam-BVKEz
- https://islam.nu.or.id/khutbah/khutbah-jumat-beramallah-rezeki-kita-akan-berkah-dan-bertambah-X7W21
Editor: Madi









